Pemimpin dan Rakyatnya

“Maaf, sinuwun terpaksa saya tilang,” kata Royadin.
“Baik brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal, jawab Sultan.
Dengan tangan bergetar Royadin membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu. Tapi dia sadar dia tidak boleh memberi dispensasi. Yang membuatnya sedikit tenang, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sultan minta dispensasi. Surat tilang diberikan dan Sultan segera melaju.

1967
Meski telah ditetapkan sebagai tahanan politik oleh pemerintahan Soeharto , Bung Karno tak pernah menampakkan kesedihannya kepada orang lain. Bung Karno masih sering jalan-jalan keliling kota untuk melihat situasi dan kondisi rakyat. Suatu ketika, Bung Karno tengah berkeliling kota dengan menumpangi mobil VW Combi.

Tiba-tiba Bung Karno meminta ajudan perempuannya, Putu Sugiarti, untuk membeli satu ikat rambutan dari pedagang rambutan di pinggir jalan.
“Tri, beli rambutan.’ Saya tanya ‘Uangnya mana?’ ‘Sing ngelah pis,’ ujarnya dalam bahasa Bali yang berarti saya tidak punya uang. Jadi pakai uang saya,” demikian cerita Putu Sugiarti dalam buku ‘Hari-Hari Terakhir Sukarno’ Karya Peter Kasenda, terbitan Komunitas Bambu.

Putu Sugiarti lantas menuruti perintah Bung Karno . Dia tahu betul Bung Karno sangat menyukai rambutan rapiah. Dia lantas mencicipi terlebih dahulu rambutan itu di tempat pedagangnya.
“Bang antarkan ini ke bapak yang di mobil itu, yang kepalanya botak,” kata Putu. Saat itu Bung Karno sudah tak lagi mengenakan peci dan kacamata.

Pedagang rambutan itu pun menuruti permintaannya. Dia langsung mengantarkan rambutan itu ke mobil. “Dia antar. Bung Karno bertanya dengan suara khasnya, ‘Benar manis?” tanya Bung Karno .
Sadar pria di dalam mobil adalah Bung Karno, pedagang rambutan itu langsung histeris. “Bapaaakk… Bapak…!” Dia langsung memberitahukan kepada semua orang, “Hoi.. ada Bapak…! Ada Bung Karno!”
Suasana pun berubah menjadi geger.

6 Maret 2019
Para penumpang commuter line kaget dengan sosok orang nomor 1 (satu) di Indonesia yang tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka, berdesakan menuju ke Bogor.
Pemimpin sejati dengan rakyatnya tak ada jarak. Pemimpin melindungi dan mengayomi rakyat, rakyat percaya pemimpinnya terus bekerja untuk mereka. Itu hakikat dari pemimpin dan yang dipimpin.

Maret 2021
Ada yang bersepeda dadah-dadah ke warga masyarakat. Ah sedih kalo diceritain….
Dicuekin….
https://www.sintesanews.com/pemimpin-dan-rakyatnya/
Sumber : Status Facebook Erri Subakti

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *