Pelajaran tentang Politik Cantik Menjelang Pilpres 2019

Jadi, pilpres 2019 pilih pak Jokowi lebih beradab daripada pilih pak Prabowo yang cawapresnya Sandiaga Uno yang keluar duit banyak biar jadi cawapres itu. Buat para Jokowers-Ahokers, hikmah spt itulah musti kalian jadikan pegangan. Ga salah juga kalau mau dianggap fenomena itu adalah permainan politik cantik yang diperagakan pak Jokowi dan pak Mahfud yang berani diadu dengan permainan politik pak Prabowo, pak SBY maupun gerombolan pak Rizieq lewat ijtima’ konyol tempo hari. Ustadz Abdul Somad aja berani nolak isi ijtima’nya. Apa ga konyol itu? Politik pak Prabowo juga beda2 tipis. Udah kesana kemari konsultasi sama pak Rizieq dan pak Said Aqil yang sama2 tokoh agama, ternyata yang dia jadikan cawapres bukan orang yang paham agama malah politikus gagal memimpin DKI yang berani main duit pelicin biar bisa jadi cawapres. Politik pak SBY juga ga kalah konyol, loh. Nawarin anaknya ke pak Prabowo biar dijadikan cawapres ternyata ditolak sama pakPrabowo. Malah orang Gerindra nyebut pak SBY jendral baperan lagi. Tapi pak SBY cenderung dukung kubu pak Prabowo daripada pak Jokowi. Apalagi kalau ditambah sama omongan pak SBY yang mengkritik pak Jokowi seolah2 ga care sama rakyat miskin. Tapi tetep ada lobby juga nawarin anak SBY ke pak Jokowi buat dijadikan cawapres. Ini sih politik dinasti yg ga tahu malu. Kan masih lebih cantik permainan pak Jokowi sama pak Mahfud, to?

Eyang lihat di FB sejumlah Jokowi-Ahok lovers jadi galau atau patah semangat mendengar bukan pak Mahfud MD yang dipilih pak Jokowi jadi cawapres melainkan pak Ma’ruf Amin yang pernah mendukung gerombolan pak Rizieq cs menuduh pak Ahok penista agama. Supaya Jokowers/Ahokers tidak illfeel alias kuciwa yg sebenarnya tidak perlu sampai begitu, eyang kasih wejangan biar wawasannya ga sempit krn mnrt eyang wawasan yg sempit itulah yang bikin galau, bukan keputusan pak Jokowinya. Ada 2 point penting yang musti kalian pahami, yakni sbb :

(1). Pak Ma’ruf Amin sebagai ketua MUI memang pernah bertarung dengan pak Ahok di pengadilan terkait MUI ikut menuduh pak Ahok penista agama, walaupun sbnrnya yg penista agama itu pak Rizieq, bukan pak Ahok. Inilah track record buruk pak Ma’ruf Amin di mata Jokower yang sekaligus Ahoker kayak eyang. Tapi eyang amati, pak Ma’ruf yang seperti mendapat tekanan dari gerombolan pak Rizieq berangsur2 menjauh dari tekanan mereka. Pak Rizieq sbg imam raksasa mengajarkan kalau muslim mengucapkan selamat natal kepada umat kristiani itu tidak boleh, tapi di tangan pak Ma’ruf Amin, MUI menyatakan boleh. Mgkn ada hal lain juga yang membuat GNPF yang dibina oleh pak Rizieq merubah nama yang tadinya GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia) menjadi GNPF ulama. Tentu gerombolan pak Rizieq tidak lagi merasa cocok berkoalisi dengan MUI yg masih dipimpin pak Ma’ruf Amin. Eyang rasa pak Ma’ruf Amin sbg sesepuh NU masih ingin menjaga marwah NU sebagai ormas islam terbesar yg tdk pantas didikte oleh ormas islam atau kelompok lain yang mengaku islam. Apalagi NU dgn pak Rizieq cs banyak perbedaan, salah satunya tentang Islam Nusantara yang digagas NU yang oleh pak Rizieq cs tidak dianggap layak dihargai. Eyang rasa masa lalu pak Ma’ruf Amin yang buruk tentang pak Ahok bukanlah hal yang pantas untuk dianyam menjadi dendam. Akan lebih baik salah di masa lalu tapi benar kemudian drpd kebalikannya. Sekarang dia siap untuk kooperatif dgn pak Jokowi memperbaiki peradaban bangsa kita yang sempat terganggu oleh berisiknya pak Rizieq cs dalam menjual agama islam.

(2). Sama saja dengan pak Ma’ruf Amin. Dua2nya punya masa lalu yang tidak enak dikenang buat Jokower terutama. Jangan lupa, pak Mahfud MD dulu pernah menjadi rival politik pk Jokowi. Jaman pilpres 2014, pak Mahfud tidak memilih berdiri di kubu pak Jokowi melainkan berpihak kepada pak prabowo, yakni menjadi ketua timses kubu pak Prabowo. Tentu secara politis, pak Mahfud tidak menginginkan pak Jokowi yg menang pilpres melainkan pak Prabowo yg jadi presiden kita. Jadi kalau baik pak Ma’ruf maupun pak Mahfud sama2 pernah punya kepentingan yang berlawanan dengan Jokower, kenapa sekarang gara2 pak Jokowi tidak menjadikan pak Mahfud cawapres bikin Jokower jadi illfeel sama pak Jokowi? Maksud eyang, kalau masa lalu pak Ma’ruf tidak bisa kalian maafkan, kenapa masa lalu pak Mahfud bisa kalian maafkan? Bukankah kalau usaha pak Mahfud memenangkan pak Prabowo berhasil akan bikin kalian kecewa juga? Apa jadinya kalau pak Prabowo menang? Tentu presiden kalian bukan pak Jokowi. Di masa pilpres 2014 itu, tentu kalian kecewa karena jagoan kalian kalah smtr, pak Mahfud senang2 saja karena jagoannya menang. Untunglah pak Jokowi yang menang, sekalipun menang tipis. Tapi bisa saja menangnya lebih banyak kalau pak Mahfud tdk mendukung pak Prabowo, mengingat pak Mahfud itu punya pengaruh juga kala itu. Dia ga cuma sahabat Gus Dur dimana Gus Dur punya banyak penggemar. Dia juga cerdas dan track recordnya lumayan bagus sebagai politikus intelek tanah air. Betul, tidak?

Eyang cuma mau ngajak mikir, cu. Kalau kalian bisa menerima masa lalu pak Mahfud, sebaiknya kalian juga bisa memafkan masa lalu pak Ma’ruf Amin juga. Pak Ahok masuk penjara tapi namanya harum sebagai tokoh anti korupsi hebat. Apa yang terjadi pada pak Ahok adalah kecelakaan yg menimpa bangsa kita. Dia sudah menunjukkan bagaimana caranya menjadi seorang ksatria. Dia sedang mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan tidak tidur. Satu persatu orang2 yg pernah menuduh dia penista agama kena masalah. Penderitaan karena fitnah bagi pak Ahok adalah ujian hidup dan dia membuktikan bahwa dia mampu menjalani setiap ujian dengan baik. Pak Ahok pengen Indonesia maju dan beradab. Kalau kalian memang ingin harapan pak Ahok tercapai, buanglah pola pikir yang naif. Bantu pak Jokowi membangun negeri. Kalian kan tahu gerombolan pak Rizieq berpihak pada pak Prabowo. Kalau kalian tidak rela kans mereka memporakporandakan negeri kita menjadi semakin besar, jangan biarkan pak Jokowi berjuang sendirian. Tetep dukung pak Jokowi. Jadi Jokower itu mentalnya harus bagus, jangan dikit2 down, dikit2 illfeel. Mental kayak gitu bikin seneng kampret, tau.

Gitu aja ya, cu? Selamat merenung. Jangan lupa, nasib bangsa kita ada di tangan kalian juga. So, buang pola pikir naif. Ganti pake yang smart, gitu loh. Oke..?

(Eyang Judiarso)

 

Sumber : facebook Judiarso Kurniawan

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *