Pelacur Pemuas Kebencian

Lemah lah bangsa kalau orang merek begini yang memenuhi Kiplik tercinta ini. Tangkap segera dan tertibkan. Kalau dibiarkan, nanti mengudang pemahaman bahwa menebar kebencian itu diperbolehkan oleh hukum Indonesia. Kalau dibiarkan berarti dia lagi dipakai. Biasa sudah menjadi tabiat rezim dari dulu menerapkan jurus Naga Menelan Ekornya, pelan-pelan.
Bung Cebong : Pertanyan saya begini, Dul. Semua agama kan jadi perhatian besar manusis sejak dulu, sebagai tuntunan kebaikan. Tapi kenapa sering dijadikan alat kejahatan ?
Dulkampret : Apapun yang memikat pasti akan menjadi perebutan manusia. Bukan agama saja, kekuasaan, kecantikan, kekayaan, titel keilmuan, ketenaran, kedudukan, kemontokan. Dan lain-lain. Bagi kelompok kepentingan, agama itu terlalu seksi untuk dibiarkan begitu saja tergeletak nganggur tanpa digerayangi dan memperkosanya berulang-ulang untuk pelampiasan nafsu sahwat kekuasasn mereka.
Beragama itu fitrah, atau kecenderungan dan kecondongan makhluk bernama manusia. Ber-atheis itu penyakit. Tanyakan kenapa engkau sakit ? Jangan pernah bertanya kenapa engkau sehat ?
Ketelimbeng : Ya mestinya kalau mualaf itu, ya belajar dulu. Bertahap. Bukan pake ujug-ujuk. Ujug-ujuk jadi ustad. Lha yang belajar agama puluhan tahun kasihan masih antre, ini baru masuk langsung nyerobot antrian. Rika Kepriben.
Pace Yaklep : Coba tanyakan pada Mbah Karsono
Ketelimbeng : Mana dia tahu. KTP saja dia tidak punya kolom, disuruh bahas agama. Malah tambah ngawur, blesak.
Mbah Karsono : Jadi penceramah itu harus berkata benar. Jangan terburu-buru memvonis. Kalau masih rasa mual, jangan langsung beritahu suami, bilang saya sudah hamil. Siapa tahu itu masuk angin. Test dulu di leb, hasilnya positif atau negatif.
Kalau masih jadi burung emprit (pipit) jangan mengaku alap-alap (rajawali). Kalau masih mualap belajar dulu. Tajwidnya bagemana. Supaya bacaan Qur’annya benar dulu. Jangan jadi mualap yang bikin mual hati banyak orang.
Ketelimbeng : Katanya Mbah Karsono Kejawen, kok bicara tajwid segala ?
Mbah Karsono : Beng, pantas kau ini ketelimbeng. Bawaannya beban terus. Cucu saya kemarin hapenya ganti. Andoid lama dikasih ke saya. Dari yutup saya ikut ngaji Gus Baha. Saya tertunduk mendengar kisah tentang ‘kenangan satu sujud’. Gusti kulo nyuwun pangapuro, sujud sitok ae aku oran duwe. Mari ngono aku umpet-umpetan gogling cari jampi sembahyang. Gini-gini Mbah Karsono juga Generasi Z. Zebra tua. He heh he
Ketelimbeng : Huuuuhhhhh
Angkringan Falsafah Pancasila
Sumber : Status facebook Abdul Munib

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *