Pejuang Itu Sedang Berjuang

Tetapi, sayangnya, akun-akun yang menyuarakan kebenaran ini, seringkali menghadapi permasalahan yang tidak mudah. Ancaman dan intimidasi bukan lagi sesuatu yang asing. Bahkan pelaporan atas suara kebenaran itu, malah seringkali menjadi ancaman balik yang serius. Dan sekali lagi, pemerintah terkesan gamang dan ragu bersikap menghadapi masalah ini.

Contoh nyata adalah intimidasi yang menimpa Denny Siregar. Data pribadi yang seharusnya menjadi rahasia yang tidak bisa diumbar, nyatanya dapat diperoleh oleh oknum di perusahaan negara, dengan maksud dan tujuan mengintimidasi Denny Siregar sekeluarga.

Pengambilan dan pencurian data pribadi tersebut, jelas perbuatan melanggar hukum. Dan seharusnya, aparat kepolisian dengan mudah menangkap oknum pencuri data tersebut, apalagi ini terjadi di perusahaan BUMN milik negara. Tetapi dengan berbagai drama dan alasan, orang-orang yang bertanggung jawab di perusahaan itu, sampai saat ini tidak tersentuh oleh hukum.

Kejadian selanjutnya yang saat ini tengah menjadi perbincangan hangat adalah kasus Abu Janda. Pengiat media sosial seperti Denny Siregar itu, dipolisikan atas tuduhan rasisme terhadap Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai.

Pelaporan itu bermula dari komentar Abu Janda terkait perdebatan antara Hendropriyono dengan Pigai. Abu Janda membela Hendropriyono dengan komentar seperti kutipan di bawah ini dari cnnindonesia.com.

“Kapasitas Jend. Hendropriyono: Mantan Kepala BIN, Mantan Direktur BAIS, Mantan Menteri Transmigrasi, Profesor ilmu Filsafat Intelijen, berjasa di berbagai operasi militer. Kau Natalius Pigai apa kapasitas kau? Sudah selesai evolusi belom kau?” tulis Abu Janda, dihimpun dari berbagai sumber.

Komentar Abu janda tersebut di unggah di akun twitter miliknya @permadiaktivis1, yang kemudian dilaporkan oleh Ketua Bidang Hukum DPP KNPI, Medya Rischa Lubis ke Bareskrim tertanggal 28 Januari 2021. Atas pelaporan dari Lubis itu, Bareskrim telah menjadwalkan untuk memeriksa Abu Janda hari Senin, 1 Februari 2021.

Kecepatan Bareskrim dalam merespon kasus Abu Janda tersebut, tentu sedikit banyak menimbulkan pertanyaan dalah hati. Mengapa Polisi tidak bertindak cepat seperti saat menanggani kasus Abu Janda ini, dibandingkan dengan kasus oknum di BUMN telekomunasi yang mencuri data pelanggan?

Dalam cuitan yang dilakukan oleh Abu Janda diatas, memang ada sedikit nuansa penghinaan yang dilakukan oleh Abu Janda terhadap Pigai. Dan sebaliknya, pelaporan Abu Janda terhadap Pigai terkait kata “babu”, bagi saya tidak ada unsur penghinaan dari Pigai kepada suku Jawa, seperti tuduhan Abu Janda.

Tetapi disini, hendaknya kepolisian dapat bijaksana mengambil tindakan. Mengingat, apa yang dilakukan Abu Janda selama ini adalah membantu tugas-tugas pemerintah dalam melawan narasi-narasi busuk dari para lawan politik yang licik.

Sebaliknya, biarpun dalam kasus “babu” yang dilontarkan Pigai bagi saya tidak ada unsur rasis terhadap suku Jawa, namun untuk kegiatan medsos lainnya, komentar dan pernyataan Pigai banyak yang menimbulkan keresahan dan provokasi bagi masyarakat Indonesia.

Jangan sampai orang-orang seperti Abu Janda mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Sementara saat berjasa dalam melawan narasi-narasi licik yang disemburkan oleh perusuh bangsa, pemerintah tidak sedikitpun memberikan penghargaan. Padahal nyatanya pemerintah sulit memberikan perlawanan terhadap kelicikan itu.

Jangan sampai, orang-orang pemberani yang menyuarakan kebenaran, menjadi lelah dan mundur, hanya karena pemerintah turut meng-intimidasi kebenaran yang mereka perjuangkan.

Salam Perjuangan Mas Permadi Arya. Teruslah berjuang !

#SemogaSemuaTetapWaras

#YangWarasJanganNgalah

Sumber : Status Facebook Jon Siagian Sitepu

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *