Pasang Surut Hubungan Soeharto Habibie

Pada saat Soeharto menyatakan berhenti menjadi Presiden pada tanggal 21 Mei 1998 dan secara konstitusional harus menyerahkan kepada Wakil Presiden yaitu B.J. Habibie, sebenarnya jelas terlihat Soeharto sangat tidak ikhlas. Soeharto seperti yang dituturkan adik tirinya Probosutejo menginginkan B.J. Habibie juga menyatakan mundur bersama-sama. Soeharto sangat memegang teguh falsafah Jawa yaitu ‘Tiji Tibeh’ yang artinya ‘mukti siji, mukti kabeh, mati siji mati kabeh (mulia satu mulia bersama, mati satu mati bersama juga). Ternyata falsafah Jawa tersebut tidak diikuti oleh Habibie. Dan ini membuat Soeharto sangat kecewa.

Tapi Habibie punya pertimbangan tersendiri. Beliau punya tekad, negara harus punya pemimpin dan harus diselamatkan. Oleh sebab itu beliau berani mengambil alih kepemimpinan negara yang saat itu sedang remuk redam di segala penjuru angin. Hal yang semakin membuat Soeharto kecewa adalah dalam penyusunan kabinet, Habibie banyak menarik kembali orang-orang dulu oleh Soeharto dianggap pengkhianat seperti Ginanjar Kartasasmita, Akbar Tandjung dll. Keputusan Habibie ini semakin mengecewakan Soeharto dan keluarganya.

Dalam perjalanan waktu kepresidenan yang sangat singkat satu tahun lima bulan, Habibie banyak mengambil keputusan ekstrem yang berbeda 180° dengan Soeharto. Diantaranya kebebasan pers, pembubaran Golkar, membuka kran demokrasi dan keputusan lain. Keputusan ini membuat Soeharto nampak semakin buruk di mata rakyat. Apalagi Habibie juga memberi restu pengusutan harta dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Soeharto. Hal ini membuat Soeharto dan keluarganya menutup rapat pintu silaturahmi untuk Habibie.

Bahkan pada saat Soeharto sakit dan dirawat di RSPP Jakarta, Habibie dan Ainun yang datang langsung dari Jerman untuk bezoek, tidak diizinkan masuk oleh anak-anak Soeharto. Sehingga Habibie memutuskan langsung kembali ke Jerman. Luka di dada anak-anak Soeharto semakin nyeri tak terperi pada saat Pilpres 2014 dan 2019 Habibie secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada Jokowi sedang Keluarga Soeharto selalu berpihak pada lawan Jokowi. Dan keakraban pribadi Habibie dan Jokowi yang sudah seperti hubungan bapak dan anak semakin membuat keluarga Soeharto semakin terluka dan merana tiada tara.

So, kita jadi maklum dan mengerti apabila tidak ada satupun keluarga Soeharto yang datang menyatakan ucapan duka cita secara langsung kepada keluarga Habibie. Dan gaya baperan akut ini khas dilakukan oleh kelompok orang yang kerdil hati dan memiliki derajat berpikir yang rendah. Seharusnya mereka tidak senaif itu. Seharusnya mereka bisa memilah-milah mana masalah politik dan mana ranah etika dan kesantunan sosial.

Tapi saya tahu kualitas mereka belum sampai ke titik itu.

Salam SATU Indonesia
13092019

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *