by

Pandemi & Turbulensi Dunia

Oleh : Setyo Budiantoro

Dunia dalam situasi sulit. Indonesia juga dalam kondisi tidak mudah. Namun, jauh lebih banyak negara yg situasinya lebih sulit dari Indonesia. Tidak ada negara yg kebal terhadap pandemi, namun yg paling berat tentu negara2 miskin atau pasca konflik. Akibat ekonomi digilas pandemi, negara2 tersebut sangat sulit membayar utang. Pilihannya dilematis, membayar utang atau menyelamatkan hidup warga. Tidak membayar utang artinya negara itu dikategorikan gagal bayar (default). Kategori gagal bayar akan segera merontokkan reputasi negara & mengguncang ekonomi yg sudah sulit. Membayar utang artinya penanganan pandemi & mitigasi dampak sosial ekonominya melonggar. Ini artinya, makin banyak yg terkena virus namun fasilitas kesehatan memburuk, sementara pengangguran, kemiskinan, kelaparan & kematian juga di depan mata.

Indonesia yg masuk dalam kelompok G20 turut menginisiasi DSSI, yaitu fasilitas penundaan pembayaran utang. Seperti diketahui, G20 adalah negara2 besar yang kontribusinya mencapai 80 persen ekonomi global. Negara miskin pasti sangat kesulitan mencari utang baru atau menjual obligasi, oleh karena itu menunda pembayaran utang adalah terobosan yg baik. Mungkin ini bukan jalan terbaik, namun jelas ini akan menyelamatkan banyak manusia. Ada 73 negara yang dapat memanfaatkan fasilitas DSSI, tak perlu membayar utang dulu & dialihkan utk penanganan pandemi.

Dalam dunia penuh turbulensi ini, kerjasama multilateral berbagai negara sangat penting. Pandemi & berbagai dampaknya, tidak bisa ditangani sendiri. Mungkin juga pertama kalinya dalam sejarah manusia modern, kita saling bergantung pada negara lain atau bahkan pada orang lain. Ibarat pingpong, bila satu negara belum tertangani pandeminya maka akan berisiko pada negara lain. Istilah yg sering dipakai sekarang, no one safe until everyone is (tak ada yg selamat sampai semuanya selamat).

Presiden Joko Widodo kemarin diundang secara khusus untuk menjadi salah satu keynote speaker dalam pertemuan tingkat tinggi PBB (HLPF). Pertemuan tingkat tinggi ini membahas laporan kemajuan berbagai negara terhadap pencapaian SDGs, atau disebut Voluntary National Review (VNR). Indonesia untuk ketiga kalinya menyampaikan laporan VNR. Presiden Jokowi menyampaikan beberapa poin penting diantaranya mendorong kerjasama global mengatasi pandemi serta akses adil & merata terhadap vaksin.

Tentu saja, disinggung pula bahwa Indonesia ketiga kalinya menyampaikan VNR & komitmen tak bergeser utk mencapai SDGs. Lalu, disampaikan bahwa tahun depan presidensi G20 adalah Indonesia. Negeri ini akan menjadi tuan rumah pertemuan yang cukup menentukan, arah ke depan dunia. Tema G20 tahun depan yang dipilih Indonesia adalah “Recover Together, Recover Stronger”. Membangun kerjasama inklusif global untuk pemulihan bersama, jelas terlihat dalam spirit tema tersebut.

Indonesia kini sedang dilanda badai pandemi. Ibu Pertiwi sedang berduka. Banyak dari kita yg hidup diantara kematian. Rasanya, lingkaran kematian kini makin dekat. Apakah itu teman, saudara2 atau bahkan keluarga kita. Namun kita tetap harus optimis, memutus rantai penularan virus juga tergantung kita semua. Tentu saja pemerintah harus tegas & perlu didukung, namun masyarakat juga perlu berpartisipasi untuk memutus rantai virus dengan kebiasaan baru prokes, terutama membatasi interaksi.

Selain itu kita juga perlu bersolidaritas saling membantu, terutama meringankan beban yg terdampak sosial ekonominya akibat pandemi. Tak perlu energi terfokus saling menyalahkan, pasti tidak ada yg sempurna dalam situasi ini. Sejarah membuktikan, negara-negara maju adalah negara yang mampu bertahan terhadap kesulitan dan bahkan melejit setelah menghadapi persoalan berat. Namun, syarat mutlak untuk hal tersebut adalah rasa saling percaya (trust) & semangat gotong royong untuk tujuan bersama. Tak ada yang lain.

Sumber : Status Facebook Setyo Budiantoro

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed