by

Pandemi Corona : Slowdown

Aq pun mulai mengklarifikasi berita berita yang beredar.. Tentang hoax ECUADOR yang sudah saya tulis di timeline. Tentang santuynya Swedia dan Jepang yang di hujat dan hakimi netizen dan tentu media. Bahwa grafik mereka yang santuy dengan yang total lockdowns gak jauh beda .. Malah Jepang grafiknya landai sekali. Dan kasus di Indonesia, per sejuta populasi di banding negara negara lain seperti US, italia, spanyol grafiknya begitu rendah hampir tak terdeteksi begitupun angka kematiannya.

Kalau memang kasusnya meledak di Indonesia, mestinya IGD ramai donk ya.. Kan RS saya letaknya cukup strategis, di segitiga emas pondok gede (lebay) dan cukup jauh dari RS yang lain. Siapa sih yang tahan sakit, siapa yang tahan sesak nafas..

Saya bertanya pada teman di rs rujukan covid yang sudah mempersiapkan 30 bed/ruang isolasi. Selama “pandemi” ini maks terisi 26 orang. Hanya sekitar 50 persen yang terkonfirmasi covid, itupun mungkin masih berupa rapid test. Dan terakhir saya tanyakan, hanya terisi 18 orang saja. Dan suasana IGD pun tidak pernah horor.

Ternyata yang sepi bukan saja RS. Wisma atlet yang berkapasitas 24 rb orang pun paling hanya terisi 500 sd 800 an terduga dan terkonfirmasi covid. Pulau Galang hanya terkonfirmasi 34 pasien dari 326 kapasitas ruang isolasi. Dan rumah sakit pendidikan yang sepanjang sejarah tidak pernah sepi pasien pun ikut sepi se sepi sepinya.

Bisa jadi virus ini memang tidak bisa bertahan di Indonesia, wong kata DR Warsito virus ini bisa rusak terpapar UVA, gak harus UVB atau UVC. Di new york aja, dalam 2 menit terpapar sinar matahari di sana, separo virus “mati”, kalu di Indonesia apa gak mati semua, modyaaar di hajar UVA dan UVB yang melimpah.

So..

Secara konsisten saya mulai mengajak slowdown. Awalnya agar kita memberi respon yang pas dan tidak berlebihan menanggapi covid ini. Berharap nakes berlaku profesional di masa pandemi. Apalagi setelah mengetahui bahwa angka kematian sangatlah kecil, saya semakin yakin Indonesia akan baik baik saja. Semakin banyak yang di tes, maka semakin keliatan kecilnya angka kematian. Bahkan di US diperkirakan CFR nya 0.4 persen, ada juga yang mengisukan bahwa angka kematian sekitar 0.03 persen. Tak jauh berbeda dengan influenza dooonk.

Melihat cara penyebaran virus ini yang tidak saja melalui droplets dan mikrodroplets, juga bisa di hantarkan di berbagai permukaan plastik selama berhari hari, di karton selama 24 jam, bahkan bisa di tularkan melalui aerosolisasi feses (bab disiram tanpa ditutup)..

Maka mau gak mau, cepat atau lambat kita semua akan terpapar. Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi paparan dengan mencuci tangan, berjemur, membuka pintu dan jendela di rumah maupun d kantor, dan mengelap berbagai permukaan yang sering di sentuh.

Kita juga harus menjaga daya tahan tubuh kita dengan cara tidur cukup, berjemur, olah raga rutin, hindari junkfood dan hindari stres. Jangan sampai kita akan terseleksi oleh virus ini..

Penyebaran dan paparan Virus ini bisa di kurangi dengan perilaku hidup bersih dan sehat, dan dampaknya ke tubuh kita pun bisa kita lawan dengan daya tahan tubuh yang baik. Seperti kata Pak Menkes, virus ini self limitting disease.. Dan memang yang menyebabkan segala sakit dan kematian bukan semata kerusakan yang di sebabkan virus, melainkan respon imun yang berlebihan yang disebut cytokine storm.

So.. Kita jangan ikut ikutan berespon berlebihan.. Please.. SLOW DOWN.

Maafkeun kalau banyak kekurangan selama pengambilan gambar kemaren.. Bolak balik take ulang.. Hahaha.. Bicara depan kamera itu beda euy.. Seperti ada beban seribu ton di lidah….. Aq gak bisa rileks kayak drh Indro.. Yo wis.. Biarlah.. Cepat aja di siarkan, mumpung momennya pas 

Sumber : Status Facebook Agni B Sugiyatmo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed