by

Paham Liberal Itu Sesungguhnya Budaya Asli Indonesia

Oleh: Arloren Antoni

Saya Sangat tertarik ketika seorang teman saya menulis koment dan saya ingin meng-elaborasi lebih dalam soal koment teman ini. Ketika saya katakan “Kita tak perlu meniru dan mengimport budaya Arab, karena budaya Arab itu sangat primitif dan terkebelakang dibanding budaya Nusantara yang kaya”. Tapi seorang teman malah menanggapi sbb:
.
[[[Paham Liberal juga impor, bukan paham asli dari Jawa, Sunda, Sumatra, Kalimantan, Papua, Aceh atau daerah lain diIndonesia ini]]]
.
Ini keliru loh…. !!! karena sesungguhnya Nusantara ini sejak nenek moyang kita dulu adalah penganut paham Liberal. 
.
Ulangi:
.
Sesungguhnya Nusantara ini sejak nenek moyang kita dulu adalah penganut paham Liberal. 
.
Nah….. disinilah masalahnya, kita masih sangat banyak yang TIDAK TAHU SEDIKITPUN apa itu paham Liberal.— Liberal itu sendiri berdasar dari kata: Liberty yang bermakna Kebebasan. Karena adanya kebebasan inilah makanya warga Nusantara sangat berbhinneka dan SANGAT DIJAMIN HAK HAK mereka oleh para Raja / Sultan / Petinggi petinggi adat Nusantara.
.
Artinya: 
Apa saja hak-hak warga maka dia bebas untuk melakukannya. Dengan kondisi warga yang sangat Multi kultur / Multi budaya inilah maka prinsip Bhinneka Tunggal Ika bisa hidup nyata. Perbedaan itu hanya bisa selaras saat kita saling menghormati dan SAMA SEKALI TIDAK MEMAKSAKAN nilai nilai kita pada kelompok yang berbeda.
.
Lalu apakah batasan dari sebuah “kebebasan” dari hak hak privat tadi…?? batasannya sangat sederhana, yakni:
.
++pada saat kebebasan anda itu merugikan orang lain atau mengganggu orang lain secara fisik++

sampel jaman dulu:
Bolehkah anda jadi seorang Hindu / Budha….?? Ya boleh…. Tidak ada sejarah mencatat bahwa perbedaan itu tidak diijinkan. Kerajaan besar seperti Majapahit sangat menjamin perbedaan spt ini, Konon Mahapatih Gajah Mada adalah seorang Budha sedang Hayam Wuruk selaku Raja adalah penganut Hindu. 
.
Sampel Hak yang berbeda jaman sekarang :
Boleh-kah saya memutar MP3 milik saya….?? Ya boleh…. !! Tapi kalo suara speaker MP3 anda nyelonong masuk kamar orang lain dan menganggu tidur dia maka artinya kebebasan anda sudah merugikan dan mengganggu orang lain. Dan itulah batasan dari kebebasan anda. 
.
Di Nusantara yang sangat kita cintai ini semua HAK HAK PRIVAT ini dulunya sangat dihargai (dulu loh ya….??). Tidak ada yang main paksa. Inilah yang selama ini kita sebut sebagai semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA. Sebuah keragaman budaya tapi tetap dalam bingkai yang satu dalam lingkup “Nusantara”. 
.
Saya bisa memberi sampel seperti Kota Medan. Di Medan itu banyak yang Muslim dan tentu saja mereka tidak meminum tuak, tapi dilain pihak etnis Batak maupun etnic Karo yang Non Muslim juga punya kultur minum tuak. Yang Muslim bisa bebas menjalankan hak hak privat mereka untuk tidak minum tuak, Namun yang etnic Batak yang mau jualan tuak dan minum tuak juga dijamin hak hak mereka untuk berjualan tuak dan meminum tuak sesuai tradisi dan budaya / adat leluhur mereka turun temurun. Yang Muslim dilindungi dalam menjalankan prinsipnya tidak akan minum tuak, Yang Non Muslim juga dilindungi untuk meminum tuak hingga teler. Tapi kalo setelah Teler mengganggu hak hak orang maka dia akan ditindak sesuai kesalahan dia mengganggu orang lain tadi, Inilah PERBEDAAN yang tetep dibingkai dalam satu kesatuan.
.
Kota Medan adalah SAMPEL HIDUP SOAL PAHAM LIBERAL. Sebuah propinsi yang Multikultur dengan perbedaan dan tidak saling mengganggu. Nusantara secara umum juga demikian. Tapi sangat disayangkan, sekitar tahun 1988 ke atas (hingga sekarang), masuklah sebuah paham dari negara asing, Mereka MEMAKSAKAN KULTUR MEREKA yang suka berperang dan memaksakan nilai nilai mereka pada kita. 
.
Hanya mereka yang PALING BENAR dan kita dipaksanya untuk harus ikut nilai nilai mereka. Keberagaman dipaksa harus satu dalam bingkai yang mereka ciptakan. Semua perbedaan yang ada seperti Kristen, Hindu, Budha dan juga Muslim yang telah ada sejak lama di Nusantara ini dan mampu hidup damai berdampingan dicap dengan cap la’nat sesuka hati mereka.

 
(Sumber: Status Facebook Arloren Antoni)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed