by

Orang-Orang Bugis di Luar Batang

Oleh: Tomi Lebang
 

Kawasan Pasar Ikan di Penjaringan, Jakarta Utara kini tinggal puing-puing belaka. Lahan negara yang mereka huni berpuluh tahun telah diambil pemiliknya. Ada 4.000 warga yang tergusur, sebagian dipindah ke Rumah Susun, sebagian tak berhak dan pulang kampung.

Sebagian lagi tak mau menjauh dari tempat mereka bertahun-tahun tinggal beranak-pinak. Mereka adalah para nelayan yang enggan menjauh dari laut.

Siang tadi, ada delapan perahu sarat muatan tertambat di air laut samping Pasar Ikan. Di atas delapan perahu ini bersesak-sesak delapan keluarga, tua dan muda, kakek nenek, remaja hingga balita. Mereka menumpuk kompor, kasur, termos dan mainan.

Mereka enggan berpindah ke rumah susun, tak terbiasa mereka tinggal di ketinggian, jauh pula dari tempat mencari makan. Delapan keluarga besar ini terdiri atas 29 orang.

Dan Anda tahu mereka orang mana? Mereka dari Sulawesi Selatan. Perantau-perantau Bugis — dari Bone, Pangkep dan Sinjai.

Dan karena itulah, sekelompok orang muda keluarga besar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin di Jabodetabek, siang ini datang ke sana. Perahu-perahu masih tertambat tak beraturan, sampah-sampah mengambang di air yang pekat. Bau anyir asin laut merebak di udara.

Yarivai yang berfoto dengan baju koko, Suharman, dan Amrul Cheppy, datang dengan membawa bantuan ala kadarnya, hasil urunan spontan para lulusan Universitas Hasanuddin yang bermukim di ibukota dan sekitarnya.

Kepada anak-anak muda sekampung ini, warga Luar Batang yang memilih bertahan di perahu menyampaikan kabar sebenarnya: mereka memang enggan berpindah ke rumah susun yang jauh dari laut. Mereka tengah menanti saat yang tepat untuk berpindah ke kawasan Muara Baru – tak jauh dari kampung Luar Batang.

Hari beranjak sore, kawan-kawan lulusan Unhas meninggalkan perahu-perahu yang tertambat ini dengan sedih tapi lega. Semoga mereka yang tergusur dari tanah negara, menemukan jalan hidup berkelimpahan rezeki dan sehat sentosa.

Perantau-perantau Bugis senantiasa mengingat pesan ini: kegasi sanree lopiE kotisu to taro sengereng. Di mana pun perahuku kutambatkan, di sanalah saya menanam budi baik.

 

(Sumber: Facebook Tomi Lebang)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed