by

Ngaji Massal Malioboro Gagal Diulang Di Solo

Oleh : Ahmad Topeng

Mengaji massal di Jogjakarta terutama dijalan Malioboro yang menimbulkan pro kontra berusaha diulang sebagian oknum masyarakat Solo. Apalagi kebetulan Pemkot memulai kegiatan ramadan dengan menggelar kampung ramadhan. Acara resmi pemerintah kota itu awalnya diadakan di balaikota Surakarta tepat di tepi jalan. Pemkot ingin menyajikan hadrah selama jelang buka puasa dan rutin diadakan hingga paska Idul Fitri, Namun ketika poster asli pemkot muncul di sosmed, ternyata tak lama menyebar poster menyerupai.

Hanya saja sudah ada editan dengan menyebut jargon “Solo Mengaji” dengan tadarus massal masyarakat Solo di halaman balaikota Solo. Padahal di poster sebelumnya sama sekali tidak menyebutkan hal itu. Pemkot menggelar hadrah agar warga menikmati. Jika kita amati, nampaknya sekelompok orang memang memiliki niat tidak baik dalam hal ini. Entah siapa lagi yang bernama Eko dengan nomor 085728015013 yang dicantumkan dalam e-flyer palsu itu.

Sulit diterima nalar, seseorang yang bukan ASN, bukan bagian penyelenggara berani mengedit serta mengkapitalisasi acara resmi pemerintah dengan menambah-nambahkan sendiri. Tidakkah kita lihat acara mengaji massal di Malioboro itu juga menjadi tidak simpatik? Ada berapa banyak orang kemudian menentang dengan hal itu?

E Flyer yang tersebar itu kemudian nampaknya kembali di revisi dan sudah agak beda dengan e flyer Pemkot. Jika sebelumnya penggubah e flyer hanya menambahkan kata-kata saja, kali ini merubah warna dasar dari semula hijau menjadi kuning. Tulisan besar tadinya Kampung Ramadan, persis sama dengan pemkot, diganti dengan Ayo Mengaji. Lalu lokasi yang semula berada di Balaikota Surakarta, kini berubah ke sepanjang jalan Sudirman. Anehnya dia tetap nekad menempelkan logo Pemkot Surakarta. Entah seorang muslim macam apa yang masih melakukannya.

Dan e-flyer palsu ini menyebar di banyak berbagai group masjid baik area Surakarta maupun sekitarnya. Mengapa seorang muslim ketika ingin menyelenggarakan sesuatu harus ikut numpang acara orang lain? Apa masalahnya? Kenapa tidak menggelar sendiri? Lalu tujuan Pemkot dengan orang yang ingin menggelar tadarus massal jelas berbeda. Lalu mengapa Pemkot tidak menggelar tadarus massal? Mengapa pilih menggelar hadrah? Tadarus itu pilihan pribadi dan jatuhnya pada diri sendiri. Tidak baik memaksakan ibadah pada individu.

Sementara penyelenggaraan hadrah lebih kepada menghibur masyarakat yang menunggu saat berbuka. Biasanya memang kawasan balaikota surakarta ramai banyak orang menghabiskan waktu. Maka dari itu Pemkot mempersembahkan kesenian hadrah. Selain itu juga akan disusulkan festival kuliner di Benteng Vastenberg menjadi sebuah kesatuan. Artinya masyarakat bisa sekalian berbuka sembari menikmati sajian hadrah. Jika ingin shalat maghrib juga dapat dilakukan di Balaikota yang saat ini kawasannya sangat terbuka.

Beribadah di Solo atau di Indonesia ini sangat boleh bahkan tidak dilarang. Membaca Al Qur’an apalagi bulan Ramadan itu bisa berlipat pahalanya. Hanya saja silahkan lakukan atas kesadaran diri sendiri, bukan karena orang lain apalagi biar disaksikan orang. Itu namanya Riya, pamer dan sifat riya itu dilarang oleh agama Islam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed