A New Amerika

Rasanya sangat aneh ketika berjalan menyusuri Avenue dan Boulevard panjang yang terbentang sepanjang mata memandang. Ibukota Washington DC bagaikan seperti sedang menahan nafasnya, jalanan tampak sangat sepi dan lengang. Padahal hanya sejarak beberapa ratus meter di sebelah kanan, sedang terjadi sebuah peristiwa yang ditunggu oleh dunia dan yang bisa merubah masa depan milyaran orang. Ribuan tentara dengan senjata yang siap untuk dikokang mengawal hari yang bersejarah, tetapi mereka tetap memberikan sapa dan tersenyum ramah saat saya dengan pelan berjalan menyeberang.
Upacara terhitung berjalan dengan sangat sederhana, tidak ada tampak keglamouran yang berlebihan dari sebuah negara yang termasuk adidaya. Hanya ada hiasan bendera-bendera besar di latar belakang yang pernah menjadi lambang negara dari masa ke masa. Semua tampak sama dengan garis merah dan putih, hanya jumlah bintang-bintang yang ada di sudut warna biru yang sedikit berbeda. Sedang kursi yang digunakan untuk duduknya para tamu kehormatan, tampaknya hanya merupakan kursi lipat yang biasa saja.
Menyenangkan rasanya ketika melihat mantan-mantan yang pernah menjadi pemimpin sebagai komandan utama saling bertegur dan menyapa. Di Amerika, sebutan untuk para mantan tetap dipanggil Mr. President dan tidak pernah akan berubah. Tetapi rasanya, mereka telah sepakat kalau hanya si Oyen Trump yang tidak akan pernah diterima untuk menjadi anggota club yang paling bergengsi di dunia. Dia sudah kabur dari Gedung Putih pagi-pagi sekali, dan menolak untuk hadir dalam upacara seremonial, bagaikan anak kecil yang ngambek dan marah karena tidak diberi permen lolipop oleh orangtuanya.
Tabik.
Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *