by

Negara Pusing, LSM Bertindak

Oleh: Karto Bugel

AGAK KONYOL, tapi itulah realita yang kini terjadi. Di Perairan Denmark, Greenpeace cabang Denmark melakukan blokade pada kapal tanker pembawa minyak dari Rusia. 

Terkait Greenpeace, serta merta itu membawa ingatan bahwa LSM tersebut selalu reaksional manakala terjadi hal yang tak baik bagi lingkungan. Entah kenapa, kali ini wajahnya terlihat agak berbeda.

Pekan lalu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dalam rapat dengan Komisi VI DPR, mengatakan bahwa perusahaan energi plat merah itu berencana membeli minyak mentah dari Rusia. Minyak dari Rusia itu kelak akan diolah di Kilang Balongan.

Nicke juga mengungkapkan Pertamina saat itu tengah berkoordinasi dengan Kementrian Luar Negeri dan Bank Indonesia guna memastikan proses pembelian minyak ini tidak memicu masalah lebih lanjut. 

Itu terkait dengan kelangkaan dan harga minyak dunia yang melambung akibat perang di Ukraina. Itu juga terkait dengan sanksi dunia pada Rusia. Pun pasti juga terkait dengan hal teknis transaksi yang menggunakan mata uang Rubel. 

Belum lama ini Rusia telah mengumumkam bahwa transaksi minyaknya hanya dengan menggunakan mata uang negara itu sendiri. 

Karena satu dan lain hal, minyak Rusia dijual lebih murah 20-25 dolar perbarel. Pada kondisi harga minyak dunia saat ini yang sangat tinggi, harga minyak berasal dari Rusia jelas sangat menggoda. Sebagai negara net importir Indonesia jelas sangat butuh minyak itu. 

Konon India dan China tetap melakukan pembelian minyak dari Rusia dan tak ambil pusing dengan anjuran dunia internasional terkait sanksi pada negara tersebut. Pun Indoesia pada akhirnya. 

Kita tak mendukung perang namun juga tak harus mengkaitkan perang ini dengan bisnis.

Dan benar, tak butuh waktu lama, tanker milik Pertamina yakni Pertamina Prime dikabarkan telah tiba di perairan Denmark. Tanker raksasa milik Pertamina itu konon langsung dihadang oleh greenpaece.

Para aktivis lingkungan itu diberitakan telah memblokade dua kapal tanker di lepas pantai Denmark pada Kamis (4/4/2022). Mereka menaiki kayak dan berenang demi memblokir kapal tanker yang sedang memuat pengiriman minyak dari Rusia. Satu dari dua tanker itu adalah Pertamina Prime.

Pertamina Prime adalah kapal kedua milik PT Pertamina International Shipping. Greenpeace Denmark mengorganisir aksi itu dan kemudian menyerukan larangan impor bahan bakar fosil dari Rusia, menyusul invasi ke Ukraina. 

Para aktivis Greenpeace membuat tulisan “Perang Bahan Bakar Minyak” di lambung Pertamina Prime. 

Konon Greenpeace mendesak agar pembelian minyak dari Rusia harus dihentikan karena itu memiliki arti sama dengan mendukung perang. Rusia yang tetap dapat menjual minyaknya dianggap mampu membiayai perangnya. 

Ini anomali Greenpeace. Ya, pada kasus ini Greenpeace memang tak terlihat seperti aktivis lingkungan hidup tapi justru lebih mirip proxy barat. Greenpeace terlihat berpihak.

Pada invasi militer Barat di kawasan Arab, tak ada jejak Greenpeace pernah memblokade tanker milik barat yang hilir mudik membawa minyak dalam junlah fantastis.

Ketika pihak barat tak lagi punya solusi cerdas atas invasi Rusia di Ukraina, Greenpeace pun mereka turunkan.

Itu jelas mencoreng muka Greenpeace.

Kenapa harus tanker milik Pertamina, bisa jadi ini adalah bentuk psywar pada Pertamina atau Indonesia. Ini peringatan terselubung.
.
.
RAHAYU

(Sumber: Facebook Karto Bugel)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed