by

Nasib Setya Novanto Tergantung Presiden

Oleh: Ninoy N Karundeng

Terkuaknya transkrip rekaman Setya Novanto yang disebut mencatut nama Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla mengejutkan banyak pihak. Orang terkuat di Indonesia sejak zaman eyang saya Presiden Soeharto itu tersandung kerikil tajam. Zaman sedikit telah berubah. Yang tak berubah adalah sistem pemburu rente yang tetap akan dipertahankan. Akibat rekaman itu, nasib Setya Novanto dan Sudirman Said kini ada di tangan Presiden Jokowi.

Mari kita telaah skenario ‘penyelesaian’ kasus Setya Novanto melawan Sudirman Said dengan hati gembira riang sentosa bahagia suka-cita tertawa terbahak menari sesuka hati selamanya senantiasa. Setya Novanto berbeda dengan Sudirman Said. Setya Novanto adalah orang terkuat di Indonesia. Saking kuatnya Setya Novanto, maka Donald Trump the Clown pun menyebut Setya Novanto di depan kampanye konferensi pers sebagai orang kuat Indonesia. Jawaban Setya Novanto cukup: yes yes yes yes! Kekuatan Setya Novanto tak terbatas.

Beberapa kali dipanggil KPK, tak hadir dan tak ada urusan. Setya Novanto adalah politisi-pengusaha sempurna di Indonesia. Punya jaringan, punya pertemanan, punya uang, punya kekuatan di seluruh lini pekerjaan, kekuasaan dan lembaga di Indonesia. Maka ketika KPK memanggilnya, yan terjadi adalah pada akhirnya terjungkallah Ketua dan Pimpinan KPK Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Bahkan arah jelas DPR adalah membubarkan KPK. Hanya rakyat dan mendia yang membentengi dan meminta Presiden Jokowi untuk memertahankan KPK. (Perhitungan politik rakyat juga jelas, pembubaran KPK adalah jebakan politik untuk menghancurkan Presiden Jokowi.)

Maka kini, ketika Setya Novanto tersandung riak kasus rekaman pencatutan nama Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla, publik pun berpikir bahwa Setya Novanto akan terkena sanksi dari MKD dan juga kecaman politis dari Jusuf Kalla dan juga Presiden Jokowi. Presiden adalah simbol negara yang tak bisa digunakan sebagai alat pemburu rente. Inilah tiga skenario penyelesaian kasus Setya Novanto. JK dan DPR melokalisasi kasus. Jusuf Kalla, setelah bertemu dengan Setya Novanto, melokalisasi kasus rekaman Setya Novanto ini dan memojokkan Sudirman Said dari berbagai pihak. JK menyebutnya sebagai pertemuan dan rekaman bukan sebagai Ketua DPR.

Setya Novanto menolak disebut mencatut nama presiden dan wakil presiden. Fadli Zon dan Fahri Hamzah pun membela Setya Novanto dan memojokkan dengan jelas Sudirman Said. Faktor kekuatan Setya Novanto yang tidak ada bandingannya di Indonesia ini yang menyebabkan sikap, tingkah laku, perbuatan politik, hukum, pribadi tak terbatas dan bebas. Setya Novanto tidak akan pernah tersentuh oleh hukum dan bebas melakukan apapun. Apalagi namanya MKD DPR hanya bocah kecil tak berilmu dan lemah tak berdaya yang menetek susu ke pembantu. Tak bergigi dan tak bernyali. JK adalah pelobi politik, hukum, ekonomi dan sosial di kalangan Istana sampai parlemen. JK mengambil sikap di tengah-tengah dan cukup netral untuk kasus rekaman ini.

JK mencari jalan tengah dan mencari aman untuk percaturan posisi politik dirinya dan juga Presiden Jokowi. Sikap JK akan berubah nanti dan ditentukan oleh Presiden Jokowi. Sudirman Said yang diberi tugas oleh Presiden Jokowi untuk memerbaiki iklim pengelolaan energi dan menghilangkan pemburu rente kebijakan di sektor migas, menjalankan tugas dengan baik. Rekaman pembicaraan Setya Novanto yang dipegang oleh Sudirman Said bukanlah hal yang sederhana. Dipastikan ada gerakan untuk mendukung sikap Sudirman Said yang ingin memberantas korupsi dan perburuan rente. Sudirman Said tak akan berani gegabah membuat laporan tanpa adanya kekuatan baru dalam perubahan politik di Indonesia saat ini.

Dukungan kekuatan itu mencoba untuk mengakhiri kekuatan Setya Novanto yang malang-melintang di dunia politik-ekonomi Indonesia sejak rentang kekuasaan eyang saya Presiden Soeharto sampai sekarang: unstoppable, untouchable, and mighty politician. Luar biasa. Sudirman Said, sejak sebelum peluncuran rekaman pembicaraan Setya Novanto dengan orang-orang perantara Freeport, memang akan dijatuhkan dan disingkirkan oleh DPR. Penyebabnya adalah Sudirman Said melakukan pembenahan di sektor ESDM yang merugikan banyak orang-orang DPR. Sudirman Said menakutkan seperti KPK. Jelas tindakan Sudirman itu menimbulkan serangan terhadapnya dari kalangan DPR yang pro status quo, koruptif, dan nepotif.

Maka, melihat peta kekuatan seperti itu, nasib Setya Novanto dan Sudirman Said kini tergantung kepada Presiden Jokowi. Melihat reaksi JK, setelah laporan Setya Novanto oleh Sudirman Said, tampak sekali Jusuf Kalla bertindak berhati-hati. Sikap itu menunjukkan sikap politis yang berhati-hati JK. Penyebabnya adalah (1) kekuatan Setya Novanto yang luar biasa, (2) peran Golkar, yang penting (3) pembelaan Fadli Zon dan Fahri Hamzah, yang mewakili status quo (4) dan posisi Sudirman Said sebagai pembantu presiden.

Kini saatnya Presiden Jokowi memainkan kekuatan politiknya terkait pencatutan nama Presiden Jokowi oleh Sudirman Said antara (1) mengeliminasi atau menyingkirkan kekuatan yang menghambat pembangunan negara, (2) atau memanfaatkan kelemahan untuk kompromi politik dengan menyandera kelemahan sebagai kunci as mati. Kedua pilihan itu tak merugikan Presiden Jokowi sama sekali. Pilihan pertama Presiden Jokowi akan menimbulkan reaksi sesaat tersingkirnya kekuatan lama status yang menggurita.

Pasti kegoncangan dan serangan terhadap Presiden Jokowi dan Sudirman Said akan semakin kencang. Kerena yang dilawan oleh Presiden Jokowi dan Sudirman Said adalah kekuatan yang unstoppable, mighty, dan untouchable. Sedangkan pilihan kedua adalah penyingkiran soft-landing yang tidak gaduh dan tenang yang mampu membungkam sedikit kekuatan mafia yang bergentayangan di jagad kekuasaan di Indonesia yang menguasai politik, ekonomi, dan sosial.

Sekali lagi, nasib Setya Novanto dan Sudirman Said akan ditentukan oleh Presiden Jokowi. Kita lihat drama ini dengan seksama karena menentukan posisi politik Setya Novanto, Sudirman Said, dan tentu Presiden Jokowi – sedangkan JK sebagaimana biasa berdiri menjadi pelobi. Salam bahagia ala saya.

(Sumber: Kompasiana)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed