by

Nalar Terbalik Penggugat Ijazah Presiden Jokowi

Oleh : Karto Bugel

Sensasi itu pernah dia buat pada tahun 2014. Itu adalah tahun politik dimana pak Jokowi menjadi presiden. Sensasi yang hampir sama, kini ingin dia ulang.

Kenapa disebut sensasi, apa yang dia tuduhkan saat itu memang tak pernah mendapat predikat benar. Dia justru harus mendekam di penjara akibat perbuatannya.

Seperti sekedar mencari peruntungan, pria bernama Bambang Tri Mulyono dan lahir di Blora, 5 Mei 1971 itu, sekali lagi ingin mencobanya. Sensasi lama dan tertunda itu ingin dia ulang lagi.

Dia menggugat presiden Jokowi di tahun dimana orang sedang sibuk bicara capres untuk 2024 nanti. Seperti tak mau kalah dengan ramai berita nama bacapres, dia pun seolah ingin namanya turut menjadi perhatian.

Penulis buku “Jokowi Undercover” itu katanya telah berhasil menemukan sejumlah keterangan yang menunjukkan bahwa ijazah presiden Jokowi dari Universitas Gadjah Mada itu diperoleh secara ilegal.

Dan Presiden Jokowi pun konon sudah digugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Konon gugatan dengan nomor perkara : 592/Pdt.G/2022/PN.Jkt.Pst, akan disidangkan perdana pada hari Selasa, tanggal 18 Oktober 2022.

Ketika nalar berbicara, seharusnya kisah ini mudah untuk ditelusuri. Masuk akal atau tidaknya ijazah palsu presiden yang dituduhkan itu hingga saat ini masih menyisakan jejak telanjang dan mudah dicari rujukannya.

Saat Jokowi mencalonkan diri menjadi Walikota Solo, bukankah ijazah yang sama telah digunakannya?

Tahun 2005 beliau mencalonkan diri menjadi walikota Surakarta. Disana hal mendasar terkait kelengkapan administrasi jelas adalah kemutlakan sebagai makna HARUS. Seperti “screening” di zaman Soeharto, syarat itu berlapis sulit dan terjal penuh jebakan. Itu ribet dan namun sudah dilalui oleh beliau.

Pun saat mencalonkan diri lagi pada jabatan yang sama sebagai incumbent, kelengkapan administrasi yang sama pasti kembali jadi syarat dan telah diminta.

Pada tahun 2012 saat mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, kisah yang sama atau bahkan jauh lebih njelimet, ritual seperti itu kembali harus dilalui lagi dan lagi. Masuk akal karena unsur jabatan yang dikejarnya lebih prestise, DKI 1.

Lebih njelimet lagi saat beliau didapuk untuk menjadi capres PDI Perjuangan pada 2014. Itu screening gila-gilaan dan HARUS dilewati. Itu untuk jabatan RI 1, Presiden Republik Indonesia yang tak boleh menyisakan sedikitpun celah teledor apalagi salah.

Pun ketika makna sekali lagi harus diulang pada 2019, artinya, surat yang sama, ijazah yang sama sebagai syarat, diperiksa lagi. Bila dihitung, ijazah sebagai salah satu syarat itu telah diperiksa sebanyak 5 kali sejak pencalonannya menjadi walikota hingga presiden. Ijazah itu sudah bolak balik diperiksa.

Artinya, itu melewati banyak anak tangga birokrasi ditambah termin waktu sangat panjang yakni sejak 2005 hingga 2022. Itu jelas pekerjaan mustahil untuk dapat terus ditutupi.

Bila kini hal itu dipermasalahkan, bisa jadi sosok yang mempermasalahkan nyalah adalah si problem itu sendiri.

Ketika data bicara tentang siapa dan seperti apa kualitas seorang Bambang Tri Mulyono, kita jadi tahu kita sedang berhadapan dengan sosok seperti apa.

Perkara anda ingin tepok jidat atau bahkan sekedar ingin tertawa sambil guling-guling, itu soal ekspresi pribadi manakala lucu tak berjauhan dengan hal-hal aneh di republik ini.

Dan entah kenapa, tiba-tiba saja ada data bahwa Fadli Zon, entah sengaja atau tidak, dia pernah terkait dengan sosok ini. Dulu, pada perkara pertamanya, saat Bambang Tri menulis buku Jokowi Undercover, ternyata Fadli pernah foto bareng dengan sosok bernama Bambang Tri ini.

Fadli pun mengaku memang pernah foto bareng dengan Bambang beberapa tahun silam namun tidak pernah berkomunikasi lebih lanjut.

“Bambang Tri penulis buku ‘Jokowi Undercover’ pernah bertemu saya 4-5 tahun lalu. Ia datang ke perpustakaan saya, Fadli Zon Library, dan meminta dukungan penerbitan bukunya ‘Adam 31 Meter’,” kata Fadli kepada detikcom, Sabtu (31/12/2016)

https://news.detik.com/…/penjelasan-fadli-zon-soal-foto….

Bila pada action pertama Bambang Tri pernah melakukan foto bareng dengan Fadli Zon, kini pada aksi kedua dia justru seolah membawa Sugik Nur, apakah ini kebetulan belaka?

Melalui kanal Youtube, dikabarkan bahwa Bambang Tri Mulyono telah melakukan mubahalah yang dituntun oleh Sugik Nur.

Entah kenapa, ketika nama Fadli dan Sugik Nur turut disebut saat terkait dengan Jokowi, bukankah itu justru seperti memaksa kita untuk bicara tentang konspirasi misalnya?

Ketika suatu saat dulu nama Fadli dan kini nama Sugik seolah terafiliasi dengan Bambang Tri dan kini itu terkait gugat menggugat ijazah Presiden Jokowi, salahkah kita tertawa sambil guling-guling?

Bukankah itu memang lucu sekaligus bin ajaib?

Satu hal yang pasti, Bambang Tri Mulyono pernah ditahan oleh Bareskrim Polri pada 30 Desember 2016 karena buku Jokowi Undercover yang dituliskannya berisi informasi palsu.

Pada 29 Mei 2017, dia divonis bersalah di pengadilan tingkat pertama. Dia dihukum 3 tahun penjara. Dia pernah sempat hendak banding, tetapi tak pernah dilakukannya hingga perkara itu inkrah.

Bambang Tri dinilai terbukti melanggar UU ITE juncto UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa.

RAHAYU

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed