by

Merenungkan Jokowi

Oleh : Karto Bugel

Menjaga diri dan menjadi tetap konsisten itu bukan pekerjaan mudah. Selalu saja ada godaan hadir, dan tanda ingkar terlihat ketika mulut bermanis kata dalam nada ringan penuh janji.Dari rakyat untuk rakyat, kalimat itu terlalu sering muncul dalam drama. Tangan kanan memberi lima tangan kiri memasukkan sepuluh dalam kantongnya. Itulah penguasa. Itulah mereka yang kenyang hanya bermodal janji. Adakah konsistensi dari mereka yang kini berkuasa setelah pada awalnya selalu memakai jargon rakyat? Pengusa hari ini tak bisa dilepas dari peristiwa 27 Juli 1996 duapuluh lima tahun yang lalu.

Ada sebutan wong cilik melekat padanya, dan kekerasan negara yang terjadi pada saat itu karena sebab banyak wong cilik ingin naik panggung. “Adakah wong cilik masih menjadi bagian dan tujuan bagi partai itu?” Bung Karno bapak pendiri bangsa ini pernah mengingatkan bahwa desa merupakan salah satu benteng pertahanan negara. Kebijakan dan program pembangunan haruslah menitik-beratkan pada pemberdayaan desa. Membangun Indonesia dari desa. Jika desa kuat, maka Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Itulah Indonesia maju yang berdaulat, Indonesia yang berakar dan bertumpu pada desa yang kuat. “Kenapa harus desa?” Ketika Jokowi akhirnya ditetapkan sebagai Capres dari PDIP tahun 2014, apa yang terlintas dalam benak masyarakat Indonesia saat itu adalah PDIP konsisten dengan jargon partainya wong cilik. Bukan dari kasta politik atau birokrasi mapan Jokowi berasal, dia adalah seperti kita kebanyakan. Dia adalah entitas wajah wong cilik, wong ndeso.

Maka, ketika cara kerjanya pun menoleh dan berpihak pada kepentingan rakyat kecil, serta merta dia menjadi musuh kaum mapan negeri ini. Elit politik dan birokrasi yang telah mapan dalam bentuk oligarki yang senang berpihak pada segelintir elit penguasa 90 % ekonomi negara ini dalam seketika memunggunginya. Mereka langsung mengambil jarak dan tambur sebagai tanda perang mereka bunyikan. Sejak saat itu, sumeng (hangat karena demam) tubuh negara ini kita rasakan. Ramai bangsa ini bersilat lidah dalam panggung media hingga demo dalam banyak wajah mereka tampilkan dalam marah. Enam tahun sudah Jokowi berkuasa dan Jawa sentris dalam rupa pembangunan yang biasa dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya dia tinggalkan.

Dia membangun dari ujung luar dan menghubungkan desa dengan kota. Dia membentangkan jembatan demi terhubung banyak tempat yang dulu tak terseberangi. Dia menyapa mereka yang lama tak tahu seperti apa sosok seorang Presiden. Dia merapatkan jarak status sosial. Dia berdiri sama tinggi tanpa terlihat canggung. Dia wong ndeso yang terpilih menjadi Presiden dan tetap merasa sebagai bagian dari desa. Ketika pertanyaannya kenapa harus desa, belum lama ini, pada ulang tahunnya yang ke 48, pada 10 Januari yang lalu, ibu Megawati kembali menyinggung makna pentingnya Desa bagi Indonesia. Desa adalah taman sari kearifan lokal nusantara. Di sana, kebudayaan dan kepribadian bangsa ini lahir, tumbuh dan berkembang. Dari sanalah masa depan bangsa ini seharusnya dimulai. Itu adalah pernyataan jelas dan tegas tentang posisi penting desa bagi PDIP langsung dari sang Ketum.

Sekali lagi, desa menjadi titik fokus partai ini dan apa itu konsistensi kembali dijadikan sebagai titik pijakannya, Desa. Tak hanya bu Mega dan pak Jokowi, fokus yang sama ternyata juga telah diperlihatkan oleh kader senior PDIP yang lain. Budiman Sudjatmiko adalah seorang yang sangat aktif membuat promosi bagi ide pembangunan desa. Dia juga duduk sebagai Kepala Dewan Pembina Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Papdesi). Desa sebagai ibu kota baru, sebagai pusat peradaban baru adalah kalimat yang paling sering dia ucapkan ketika berbicara tentang desa.Tak hanya sekedar mengatasi kemiskinan, tetapi juga melahirkan kelas menengah dan entrepreneur baru pada banyak desa, sering pula dia sampaikan ketika berbicara tentang gagasannya membentuk BUMDes. Perjuangannya pada RUU Desa yang sudah dia lakukan sejak 2012 di mana kemudian secara resmi menjadi UU pada 2014, membuat desa memiliki dana senilai 1 miliar setiap tahun.

Investasi pada Bukit Algoritma pun dia perjuangkan dan itu tak terlepas dari cita-cita kader senior PDIP itu dalam menjadikan desa sebagai tulang punggung pembangunan Indonesia. Mendekatkan desa dengan teknologi adalah keniscayaan bagi bangsa ini. Dari desa untuk Indonesia maju adalah apa yang tampaknya menjadi fokus PDIP pada perjuanganya baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Sepertinya PDIP masih konsisten berdiri dan bersama wong cilik membangun bangsa ini dan itu terlihat dengan niat membangun negara yang dimulai dari desa. “Membangun Indonesia dari desa. Desa kuat, Indonesia maju dan berdaulat”. Itu adalah kata penutup bu Mega saat peringatan HUT ke-48 PDIP, yang diadakan secara live streaming di Jakarta, Minggu (10/1/2021). Semoga pada nama calon Presiden yang akan diusungnya pada 2024 nanti masih seperti pak Jokowi. Wong ndeso dengan kapasitas yang mumpuni. Dan pada para kader PDIP, stock itu ada cukup banyak…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed