by

Menyikapi Pemikiran Buya Syakur yang Terus Mengemuka

Oleh : Abdulloh Faizin

Nama Buya Syakur mengemuka karena kwalitas pola sistem berfikirnya. Saya tidak sedang membangun polarisasi pledoi atau pembelaan kepada beliau. Kita tahu bahwa eksplorasi interpretasi keilmuan harus dibiarkan liar dulu . Agar ia berkembang menjadi sebuah silogisme alternatif yang bisa dikonsumsi menjadi jawaban dari persoalan persoalan jumud yang menimpa kita saat masuk diera melenial kekinian yang butuh literasi yang sesuai dengan kebutuhan dan zamannya. Tentunya apa yang di sampaikan Buya tidak semua salah hanya satu dua yaitu tidak adanya kesepakatan pemikiran kita dan itu sebuah keniscayaan yang harus diterima.

Pemikiran Buya Syakur adalah khazanah permata keilmuan yang tidak boleh di hadang dihentikan. Selama beliau tidak melawan sayariat yang telah disepakati tentang teologi dan ketauhidan. Selama masih menjadi diskursus maka masih bisa dibantah dan itupun harus menggunakan etika keilmuan yang beradab dan argumentasi yang bertanggung jawab. Bukan dengan hujatan yang ekstrim bahkan megarah pada insinuasi kebencian yang yang tidak sepantasnya disandarkan kepada beliau yang telah berusaha mengolah kejernihan berfikir dengan perpaduan premis yang bisa dipertanggung jawabkan.

Kita tahu ijtihad berfikir jika salah masih dapat reword 1 jika benar akan dapat hadiah dua. Beruntung masih ada yang mau berfikir dan mengembangkan keilmuan sehingga alam berfikir semakin menggeliat dan bergerak maju saat eksplorasi ilmu pengetahuan mulai ditinggalkan. Ini melanjutkan budaya para Masyayikh dan ulama kita terdahulu yang membangun kebesaran ilmu pengetahuan saat itu. Bahkan Andalusia menjadi sebuah zaman sejarah ekspektasi keilmuan dari para cendekiawan Muslim dan Ulama yang mampu menjadikan Islam sebagai mercusuar peradaban ilmu dan kebudayaan.

Sayang para pembenci pembenci Islam setelah perang salib membakarnya memporak- porandakanya menjadikan kita kitab yang dihasilkan dari pemikiran para penulis dan kreativitas ekplorasi pengetahuan telah menjadi sampah dan terkubur dan tak bisa di daur ulang kembali baik isi maupun bangkai manuskrip-manuskripnya. Dan kini semua cerita tentang kekayaan literasi zaman itu telah menjadi sejarah yang hanya di ceritakan tanpa pernah menyentuhnya karena telah menjadi seriat serat tanah yang takkan subur dan tak juga bisa dimanfaatkan kembali.

Kita harus menyudahi membangun hantaman hantaman justifikasi Kepada beliau, tentunya diskripsi yang di ulas beliau bukannya tidak berdasarkan, beliau mempunyai kecerdasan dan talenta yang luar biasa. Namun jika ada hal yang kurang sempurna silaf bicara sudah wajar. Jika kita tidak yakin ya kita harus dengan cantik memilih sumber lain yang kita yakini karena keyakinan tidak pernah bisa dipaksakan. Namun jangan sampai menghembuskan bara api dan kita lemparkan kepada tokoh yang tidak serasi sama dengan pemikiran kita. Itu tidak elok bagi orang yang masih punya etika berfikir. Ambil yang baik abaikan yang jelek tanpa melukai.

Lalu ketika ada yang mempersoalkan bahkan menghawatirkan Buya Syakur terjebak pada kesesatan berfikir menjustmen liberal Itu terlalu jauh !. mengingau bahkan ketika beliau di cap liberal ekstrim kiri maka dengan ekuilibrium yang sangat para penuduh telah menjadi radikal ekstrim kanan. Artinya tuduhan tuduhan itu menjadi berbalik sempurna dan akhirnya tidak ada untungnya. Maka yang perlu digarisbawahi dalam diskripsi diskursus Buya yang telah meluas ini adalah hikmah yakni kebaikan yang tersembunyi bahwa semua harus terus belajar tanpa henti.

Kritik boleh yang terpenting lagi menahan emosi apalagi yang yang seperti kita yang cetek ilmu harus terus ngaji. Diceritakan oleh KH. Zuhrul Anam mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al- Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani beliau mengatakan:اذا زاد نظر الرجل واتسع فكره قل انكاره على الناس”Jika seseorang itu bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut pandangnya, maka dia akan sedikit menyalahkan orang lain”Inilah cara yang baik untuk menyikapi sebuah persoalan tentang perkembangan hasil pemikiran dan perkembangan pengetahuan disetiap zamannya.

Sumber : Status Facebook Abdulloh Faizin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed