Menyikapi Isu Lingkungan Kendeng Secara Adil

Sampai sini sebenarnya ga ada masalah, krn menyuarakan aspirasi adl hak setiap org. Tapi bs menjadi masalah saat kedua pihak mulai saling mengejek krn merasa sbg pemegang kebenaran. Ini aneh, krn yg jd pokok masalah sebetulnya kan bukan siapa subjeknya, tp isu lingkungan,

Benarkah menambang di sana itu berbahaya bagi kelestarian lingkungan?

Itu. Jadi, utk mengetahui jawabannya, tentu hrs dibahas kajian teknisnya, jgn malah asik mengeksploitasi subjek alias pelakunya. Hal teknis ini terukur, dia tidak relatif, jd jika memang ingin tau secara objektif, maka perbanyaklah pembahasan teknisnya, jangan menjual narasi yg melulu berkutat pd si pelaku.

Memang ga gampang membahas teknis krn diperlukan kemampuan dan kemauan membaca dokumen yg erat dgn istilah yg seringkali asing didengar. Tp cuma itu satu2nya jalan utk bisa mengetahui siapa yg lebih benar. Di pihak BUMN dgn segudang tim ahlinya itu tidak otomatis membuat kajian mereka pasti benar. Sebagaimana di pihak petani Kendeng yg disebut sbg warga lokal sbg pihak lemah lalu klaimnya otomatis jd benar. Ga begitu.

Kan sudah ada putusan MA yg memenangkan gugatan?

Betul, tp smp kapan pihak yg bertikai mau percaya dgn institusi peradilan? Saat ini pihak yg dimenangkan mgkn bisa beralasan hal tsb. Tp sebaliknya, pihak yg kalah beralasan MA aneh mengeluarkan putusan demikian. Saya sdh melihat ada pembahasan itu. Sekarang misalkan dgn izin dan amdal baru lalu ada gugatan lg dan andai peradilan memenangkan pihak pro, apakah nanti pihak yg kontra bs terima dgn lapang dada tanpa keluhan semisal “ah, peradilan sdh dibeli”. Biasanya kita yg kalah spt itu kan?

Krn itulah, sgt ptg kedua kubu memahami aspek teknisnya semisal,

Bener ga sih bahaya utk sumber air?
Betul ga sih kerusakannya ga bisa direstorasi?
Dlsb

Jd sebelum menyalahkan pihak lain, sudahkah kajian sendiri dikuasai? Sudahkah membandingkan dgn kajian lawan? Krn seharusnya kedua pihak slg mengerti kajian teknis kedua kubu sebelum bisa mengklaim pihak yg benar, shg tiap org bisa menimbang dan menarik kesimpulan sendiri. Sekedar jualan narasi sentimen itu ga bisa membuktikan siapa yg benar atau salah. Ujung2nya ga jauh dr balas ejekan,

Dasar lu developmentalis, antek kapitalis, buzzer bayaran koporasi
Dasar lu environmentalis, antek asing, pion LSM abal2

Ini apa? Masa intelektual sosmed kok bahasannya jd sekelas ini?

Ayo coba mulai sentuh aspek teknisnya, kurangi bahasan ttg pelaku. Jgn malah membesarkan potensi menggiring pembaca ke fallacy appealing to the authority (percaya itu bnr krn diucapkan oleh pihak “berkuasa/terpandang”) dgn terus2an berlindung d balik nama besar BUMN. Karena sdh byk terjadi koporasi srgkali melakukan bypass peraturan, kongkalikong dgn oknum penguasa. Sebaliknya, jgn jg sampai masyarakat jd tergiring ke fallacy appealing to the pity (percaya itu bnr krn pengaruh rasa iba) dgn terus2an berlindung d balik petani sbg golongan lemah. Knp? Karena kdg kala golongan lemah bisa saja scr tdk sadar ditunggangi oleh oknum utk kepentingan tertentu. Tunjukkanlah klaim dgn pembuktian scr teknisnya,

Ini loh, dr kajian gw terbukti ga merusak spt yg dtuduhin krn spt ini spt ini…
Ini loh, secara teknis klaim merusak dr gw lbh terbukti bener krn begini begini…

Karena apa? Kebenaran itu buta, dia tidak peduli subjek. Dia bisa berdiri bersama korporasi, sebagaimana dia jg bisa berdiri bersama orang kecil. Sesederhana itu…

 
(Sumber: Facebook Aldie Alkaezzar)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *