Menyesatkan vs Mencerahkan

Oleh: Enha
 

Saya tidak mengenal nama Muhammad Isnaini di pertemanan Facebook tapi dia menulis bahwa tulisanku menyesatkan. Padahal pada saat yang sama banyak yang mengakui tulisanku mencerahkan.

Mengapa bisa satu sumber tulisan mengundang dua sikap yang bertentangan, bahkan cukup ekstrem; mencerahkan dan menyesatkan. Sudah barang tentu ini disebabkan oleh intelectual background dari keduanya. Pengalaman keberagamaan dan pendidikan yang diterima memang akan sangat mempengaruhi cara pandang seseorang dalam memaknai sebuah tulisan maupun suatu peristiwa.

Saudara Muhammad Isnaini adalah satu contoh dari sekian banyak penganut madzhab konservatif dalam beragama. Biasanya dicirikan pada dua hal; Pertama, menganggap konstruksi ekonomi, sosial, politik dan budaya masyarakat di zaman Nabi Muhammad sebagai bentuk ideal dan puncak peradaban yang harus dihidupkan kembali. Kedua, menerjemahkan Al Qur’an dan Hadits secara tekstual dengan mengabaikan konteks peristiwa. Tentu saja, cara berpikir konservatif ini sangat merugikan umat Islam dan menghambat kemajuannya, meskipun disayangkan yg model begini mulai merebak di negeri kita.

Mengapa pengikut model ini mulai merebak?

Jawabnya sederhana, karena beragama gaya konservatif itu tidak membutuhkan nalar cerdas, tidak perlu ruwet belajar panjang, tdk butuh istidlâl atau istinbâth pada penggalian hukum-hukum, tdk memerlukan metodologi berfikir, menerima apa adanya, literalis, subjektif, tidak kritis, kalau berpendapat salah di awal ya tak mengapa nanti kan bisa minta maaf, bersumbu pendek, gampang meledak, senang menghujat dan pada umumnya merasa diri paling benar.

Nah, mengapa pada saat yg sama ada banyak yang mengakui tulisan pada ‪#‎Insight_Ramadhan_17‬ itu mencerahkan? Ya jawabnya juga Sederhana karena mereka memiliki cara berfikir yang lebih terbuka, tidak kaku seperti kalangan konservatif di atas. Sikap seorang muslim atas suatu tulisan maupun peristiwa memang sejatinya berimbang (tawazun), toleran (tasamuh) dan moderat (tawasuth).

Kepada Anda yang berfikir terbuka, semesta hati akan meluas sehingga tabir hikmah terbuka. Semoga kita bisa bersama-sama mensosialisasikan model berfikir seperti ini kepada saudara-saudara kita yang lain agar keberislaman kita meningkat dari waktu ke waktu; tidak terjebak pada euforia kesalehan publikatif tapi segera menebarkan rahmat untuk semesta alam.

~~ Bukankah Islam itu rahmat lil ‘âlamîn bukan hanya lil muslimîn~~

Karena itu da’wah dalam Islam sangat memuliakan bukan menghinakan…

Da’wah itu melayani bukan menzalimi..
Menemani bukan memusuhi..
Mendamaikan bukan menegangkan..

Da’wah itu menjamah dengan cinta, bukan menjarah dengan amarah..

Da’wah itu mencuci bukan mencaci..
Menasehati bukan memusuhi
Menebar kerahmatan bukan kebencian

Da’wah itu mendidik bukan mendadak…

Anda tak bisa memaksakan hidayah kepada seseorang dengan menafikan proses… Tugas Anda hanya menyampaikan bukan memaksakan…

Salam keberkatan,
Enha Baru
Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia
Istana Yatim Nurul Mukhlisin Bekasi

(Sumber: Facebook Enha Aja)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *