by

Mensyukuri Kegagalan

Oleh: Budi Cahaya

 

Di dunia karir di perusahaan saya, naik pangkat 3 grade(tingkat) sekaligus naik jabatan bukan cuma sebuah keberuntungan tapi juga setara dengan keajaiban. Maklum, jangankan untuk naik pangkat 3 grade, naik 1 grade saja susahnya sudah setengah hidup. Darimana keberuntungan itu ditafsirkan? dari belum jelasnya sistem kenaikan pangkat dan jabatan untuk pekerja marketing di perusahaan saya ini. Setiap ditanyakan ke manajemen, selalu dijawab dengan ‘masih dalam proses’ atau ada pula yg menyarankan, ‘bila ingin naik pangkat silahkan saja ikuti saja job opening untuk pangkat yang lebih tinggi’.

Mendengar ini, rasanya saran untuk ikut job opening tersebutlah yang sangat memberi peluang dan masuk akal. Jadi, wajar saja jika setip kali perusahaan membuka job opening, para pengikutnya datang seperti pelamar untuk menjadi pegawai negeri. Sebagian besar pengikut job opening ini adalah pekerja marketing yang sadar jika cuma sedang melampiaskan kekecewaannya atas karir mereka yg ‘masih dalam proses’. Job opening yang dibuka adalah untuk jabatan Asisten Manager Operasional(AMO), namun yang ikut justru sebagian besar berasal dari pekerja marketing. Hal ini bisa dibaca sebagai betapa banyaknya rekan pekerja marketing yang sedang kecewa.

Jadi, bisa dibayangkan perusahaan sedang mencari seorang yang harus teliti dan betah duduk berlama-lama di depan komputer sedangkan yang melamar adalah orang-orang ‘liar’ yang senangnya bekerja di luar kantor. Tapi demi bisa naik 3 grade, ketidak cocokan tersebut bukanlah suatu penghalang untuk ikut job opening. Jadi, bisa dibayangkan, perasaan seseorang yang sedang kecewa lantas bisa lulus diterima dalam job opening tersebut. Seluruh keberuntungan pasti seperti sedang tertumpah dalam satu kepala.

Dari hampir seratus pekerja yang ikut job opening, tidak ada pemberitahuan berapa orang yang dibutuhkan. Jadi, kami hanya sekedar diberitahu untuk ikut tes job opening ini saja tanpa banyak ‘cing-cong’. Saya adalah salah satu dari peserta job opening tersebut. Saya ikuti semua ujian dinas baik tes tertulis maupun tes wawancara dengan pejabat di wilayah kerja saya tersebut dengan sungguh-sungguh sesuai petunjuk tanpa banyak ‘cing-cong’. Setahap demi setahap saya lulus, akhirnya sayapun termasuk salah seorang dari 6 orang yang lulus dalam job opening tersebut dengan hasil ‘direkomendasi’ dan menempati rangking teratas.

Begitu saya menerima surat asli ‘direkomendasi’ dengan lampiran jumlah nilai yang saya dapatkan, secara reflek saya mengepal tangan kanan saya sambil berteriak, Yes !. Hanya satu keinginan saya, segera memberitahu keluarga, sanak kerabat, handai tolan, saudara dan rekan seisi kantor. Acara selanjutnya sambil menunggu penempatan tugas jabatan baru dengan pangkat grade yang sudah naik oleh dinas adalah bersyukur.

Beberapa waktu kemudian, perserta yang lulus bareng dengan saya telah ditempatkan satu persatu sesuai posisi job opening yang digelar lalu. Hingga tinggal sayalah yang belum ditempatkan. Setelah saya amati, rekan yang sudah ditempatkan di kantor cabang yang kecil, mungkin nanti saya menunggu kantor cabang besar yang butuh jabatan tersebut baru saya ditempatkan karena saya kan rangking teratas, begitu pikir saya menghibur diri. Hampir setahun saya menunggu penempatan yang saya harapkan, namun ternyata belum terealisir juga. Bersamaan dengan surat dari atasan saya menanyakan tentang rencana penempatan saya ke kantor wilayah, hanya di jawab staff kanwil ‘tunggu saja’.

Hingga akhirnya muncul job opening baru untuk jabatan yang sama, barulah kekecewaan saya meledak. Langit terasa gelap seketika. Saya tidak mengerti bagaimana perusahaan merekrut jabatan baru sedangkan orang yang telah lulus jabatan tersebut belum juga digunakan?. Saya merasa tidak terlalu bodoh tentang aturan perekrutan SDM sebuah perusahaan. Tetapi, untuk memahami alasan perekrutan baru lagi itu, akal sehat saya sepertinya tidak berdaya lagi. Kabar selanjutnya adalah yang lulus dalam job opening baru ini telah pula langsung ditempatkan di kantor cabang yang membutuhkan.

Saya menjadi sangat kecewa dan sakit hati. Tapi, jika cuma beban itu, saya masih kuat menanggungnya. Padahal masih ada beban ketiga yang menyempurnakan dua beban sebelumnya, yakni malu. Dengan cara apa saya akan menghapusnya? Untuk membunuh pejabat yang berwenang terlalu berbahaya. Untuk berhenti bekerja, saya tak tahu harus bekerja ke mana. Untuk menggugat direktur, saya tak kuat membayar pengacara. Maka yang saya putuskan adalah kebalikan dari itu semua, yakni tetap terus bersyukur.

“Syukuran untuk sebuah kegagalan yang sukses,” pikirku bercanda menghibur diri. Perlahan-lahan saya sudah mulai bisa ketawa, walau bekas-bekas kekecewaan masih penuh sesak di dada. Tapi, pilihan ini menentramkan hati saya. Ketika saya saya sudah mulai mampu terbuka pada kesialan sendiri, semua berubah menjadi sederhana. Saya telah siap bertemu dan menyapa semua rekan kantor dengan lebih gembira, dengan membiarkan diri saya menjadi bahan olok-olok saat ditanya “gimana dengan penempatannya pak?”. Pertanyaan ini jelas mengandung banyak tafsir mulai dari ejekan, iba, empati ataupun doa rekan pekerja.

Humor memang membantu untuk menerima kemalangan. Tapi, kini saya memahami bahwa seharusnya saya betul-betul bersyukur dalam pengertian sebenarnya karena tidak ada jaminan bahwa tidak ditempatkannya saya sejak 5 tahun lalu hingga sekarang adalah sebuah kemalangan. Bagaimana jika kemalangan itu sesungguhnya adalah keberuntungan besarnya. Tidak ada jaminan bahwa jabatan itu adalah jalan terbaik bagi hidup saya. Tidak ada jaminan bahwa saya kelak akan menjadi pejabat yang bersih dan tahan godaan ‘jagain’ uang kas milyaran dan ‘ngawasin’ transaksi non tunai milyaran bahkan triyunan. Tidak ada jaminan bahwa anak buah saya nanti tidak melakukan fraud. Apa jadinya jika kelak cuma akan menjadi koruptor dan harus mengakhiri masa tua saya di penjara? Waduh, ngeri kali…

Jadi, ada sebuah jalan, yang untuk bisa melewatinya, kepada kita tidak ditawarkan pilihan, melainkan lewat sebuah keharusan. Dan dijalan keterpaksaan itulah kadang terletak jalan kita yang sesungguhnya. Jadi benar, ada jenis kegagalan yang layak disambut dengan syukuran.

 

(Sumber: Catatan Facebook Budi Cahaya)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed