by

Menjawab Pertanyaan “Apakah Saya Muslim”

Oleh: Setyo Hajar Dewantoro

Ada yang bertanya soal agama saya. Saya jelaskan bahwa saya ini konsisten berjuang (jihad) untuk menjadi manusia yang selalu patuh dan berserah diri (taslim) kepada Sang Sumber Hidup/Pemelihara Hidup (Robbul ‘alamiin). Keberadaan Dia, Tuhan Yang Esa (Allah/al ilah al wahid), saya selami lewat perenungan (tafakkur) sepanjang waktu, hingga saya tahu Dia adalah al awwal wal akhir, adz dzahir wal bathin, Dialah alfa omega yang meliputi segalanya, melampaui ruang waktu, yang kesejatiannya tak tampak oleh mata tapi segala yang terlihat adalah manifestasi (tajalli)Nya.

Saya menyaksikan keberadaanNya (syahadah), sebagai buah konsistensi saya menegakkan shalat sebagai laku penyadaran akan keberadaanNya ( aqimishshalata li dzikri) – saya konsisten dzikir nafas, sehingga mengerti realitas nafs (jiwa), dan menjadi haqqul yakin akan keberadaan Dia yang bertahta meliputi jagad raya sekaligus Dia yang bertahta di pusat hati (qalbu) sebagai nur muhammad/ruh al quds/diri sejati yang merupakan esensi/haqiqat setap jiwa.

Saya selalu mentadabburi (merenungkan dengan sungguh-sungguh) ayat-ayat kauniyah – tanda-tanda keberadaan Tuhan di jagad raya ini. Saya menjadi mengerti sunnatulah (the law of universe). Saya adalah fuqoha, orang yang paham, terhadap qadha dan qadar. Saya juga menghayati kalamullah yang muncul di dalam qalbu, dengan mempergunakan basyirah, melalui laku dzikir yang khusyu.

Saya bertahun-tahun melakukan riyadhah (latihan spiritual) sehingga bisa dipastikan saya telah mengalami purifikasi jiwa (tazkiyatun nafs). Saya telah taubatan nasuha, telah berhenti mengikuti ego dan angkara murka saya. Saya telah menemukan salamah wal hasanah fiddunya (keselamatan, kebajikan, kebahagiaan di dunia ini). Tinggal menunggu hal yang sama di akhirat (kehidupan selanjutnya). Maka tazkiyatun nafs melalui dzikir nafas ini yang jadi inti ajaran saya. Muaranya adalah pencapaian tataran insan kamil (manusia paripurna/kristus/buddha).

Di manapun saya berada, saya selalu menebar salam (kedamaian), vibrasi itu selalu memancar melalui sel-sel yang menyusun tubuh. Sesungguhnya saya konsisten menjadi rahmatan lil alamin (penebar kasih murni bagi semua keberadaan di seluruh alam). Saya adalah penempuh dien/syariat/thariqah yang membuat saya mengerti realitas sebagaimana adanya (ma’rifat), saya sudah menemukan kebenaran sejati (al haqq). Saya telah mengalami qiyamah, kebangkitan spiritual. Hidup saya selalu qonaah (nrima ing pandum), selalu bersyukur, menyabdakan hamdalah di setiap tarikan dan hembusan nafas. Saya ikhlas, hanya bertindak sesuai kehendakNya, tidak menjalankan apapun dengan maksud terselubung. Saya apa adanya, tidak mentoleransi kemunafiqan sedikitpun – saya mengajarkan apa yang saya praktikkan, yang saya praktikkan sama persis dengan yang saya bicarakan dan ajarkan.

Saya ini cuma jarang pakai bahasa Arab, dan bukan bagian dari siapapun yang malah menjadi kafir (menutupi kebenaran) karena tahayyul (prasangka/ilusinya) dan karena mengikuti egonya (ananiyah). Saya juga bukan bagian dari mereka yang ta’asub (fanatis kelompok) – yang tidak tidak mengerti bahwa Allah/Tuhan Yang Maha Esa itu Adil paripurna, mengasihi semua manusia bahkan semua makhluk, dengan murni, tanpa syarat, tanpa diskriminasi.
Sudah jelas? Puas? Hi hi hi ….

(Sumber: facebook Setyo HD)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed