by

Menjawab Fitnah Jonru dari Perspektif Fotografis

 

Oleh: Dylan Aprialdo

Seseorang yang bernama Jonru selalu mengundang sejumlah kontroversi ketika ia mulai berbicara menanggapi sesuatu atau seseorang. Belakangan Jonru sepertinya doyan sekali mengkritik Presiden Jokowi tanpa didukung dengan argumen, data, fakta yang jelas. Dalam kritiknya, ia lebih terkesan menebar kebencian dibandingkan memberikan kritik yang membangun. Bukan Jonru kalau dia tidak berlaku seperti itu.

Baru-baru ini ia berbuat ulah dengan menanggapi sebuah foto yang menampilkan Presiden Jokowi sedang duduk lesehan di sebuah jembatan kayu dalam suasana matahari terbit di Raja Ampat. Foto ini merupakan hasil jepretan dari salah satu fotografer kepresidenan, yaitu Agus Suparto.

Argumen Jonru yang paling membuat saya tertawa geli adalah ketika ia menyebutkan, “Sinar matahari dari belakang kenapa ada bayangan? kenapa bagian punggung lebih gelap dibandingkan bagian depan, padahal cahaya datang dari belakang?”

Kenapa saya tertawa geli? Bagi fotografer amatir saja yang mengerti teknik pencahayaan dasar dalam fotografi pasti akan ikut tertawa geli. Argumen yang disampaikan Jonru secara jelas ia adalah orang yang sok tahu dan sok kritis. Saya sebagai fotografer amatir yang hobi memotret di jalanan akan mencoba menyampaikan argumen kecil saya untuk membantah kritik tersebut. Kita lihat foto di bawah ini: 

Karya Fotografer Kepresidenan, Agus Suparto Foto di atas ini hanya memperlihatkan Jokowi seperti siluet saja. Tidak tampak wajahnya secara jelas. Apa yang ingin ditunjukan oleh fotografer adalah mengutamakan keindahan matahari terbit.

Dalam teknik fotografi, untuk menangkap momen matahari terbit seperti itu kita harus mengorbankan orang-orang yang ada di dalam foto itu (jika ingin di foto itu ada orang). Karena dalam memotret matahari terbit atau tenggelam kita harus menggunakan bukaan kamera yang tinggi (di kamera tertulis f 3,6, f 8, f 12, f 16, dan seterusnya, semakin besar angkanya maka semakin mempersempit celah cahaya yang masuk ke dalam kamera) dengan ISO yang rendah (biasanya 100 atau 200).

Otomatis hasilnya akan membuat mayoritas objek foto Jokowi di atas akan tampak gelap karena si fotografer mengejar momen itu. Seperti apa teknik strobist? Sebagaimana dikutip dari Awan Logika (2010), strobist berasal dari kata strobe, yaitu lampu flash atau alat untuk kepentingan fotografi yang dapat menghasilkan cahaya terus-menerus. Sebenarnya semua fotografi yang menggunakan flash bisa dikatakan strobist, tapi pada saat ini yang dikatakan stobist jika menggunakan flash secara off-camera (flash tidak diletakkan pada dudukan flash yang ada pada body camera).

Penggunaan flash dikatakan ‘menerangi’ jika tanpa menggunakan flash, foto yang dihasilkan sangat gelap dan hasil foto menjadi hitam. Sedangkan fungsi flash dikatakan ‘mengontrol cahaya’ jika walaupun tanpa menggunakan flash, foto yang dihasilkan masih jelas dilihat, tapi ada beberapa bagian yang gelap dan sedikit menggangu. Bagian yang gelap ini perlu adanya fill flash untuk menyeimbangkan pencahayaan.

Contoh penggunaan fill flash adalah saat kita memotret orang di pantai pada sore hari, di mana menggunakan flash dengan power tertentu agar orang terlihat jelas dan warna langit sore juga tampak. Nah, ketika ingin memperlihatkan sosok Jokowi secara jelas maka Mas Agus mengombinasikan teknik foto sebelumnya di tambah teknik strobist (yang mengandalkan flash eksternal di luar kamera). Flash eksternal ini merupakan bantuan tambahan untuk memperlihatkan sosok Jokowi. Hasilnya akan tampak pada foto pertama yang penulis tunjukkan, cahaya flash membuat sosok Jokowi kelihatan dan jelas. Penulis akan memberikan contoh bagaimana orang melakukan teknik strobist

Gambar ini memperlihatkan seperti apa teknik strobist itu. Jika si pemegang lighting itu tidak ada maka sosok perempuan di gambar itu juga akan gelap sama seperti foto Jokowi yang dihasilkan tanpa teknik strobist. Yang hanya menonjol adalah cahaya matahari, dan sosok perempuan itu akan lebih tampak seperti siluet. Berikut ini adalah angle lain yang diambil oleh Mas Agus Suparto;

Kemudian soal manipulasi. Jonru terkesan menyebut manipulasi dalam fotografi adalah sesuatu yang haram. Sebenarnya tidak juga, saya teringat dengan pernyataan Arbain Rambey, Redaktur Foto Harian Kompas yang menyebutkan bahwa, foto yang dihasilkan oleh kamera itu ibarat seseorang yang baru bangun tidur. Oleh karena itu, biasanya orang yang baru bangun tidur menggosok gigi, mencuci muka, atau mandi agar tampil lebih fresh dan lebih sedap dipandang. Atau bisa juga seperti peran make up untuk mempercantik wajah.

Pun demikian dengan manipulasi foto. Tingkatan manipulasi dalam foto tergantung dengan kebutuhan si fotografer mulai dari yang ringan seperti cropping, contrast, sharpening, sampai manipulasi berat. Tapi penulis lebih suka dengan istilah editing ketimbang manipulasi ketika melihat foto karya mas Agus karena tidak merusak substansi foto tersebut.

Manipulasi foto adalah hal yang wajar bagi fotografer mana pun seperti mas Agus. Menurut saya pribadi, Mas Agus hanya melakukan manipulasi ringan saja untuk memoles foto tersebut, ia tidak merusak substansi dari foto. Jika Anda adalah seorang fotografer jurnalistik dan melakukan manipulasi yang merusak substansi isi foto maka Anda akan dipecat secara tidak hormat. Anda juga akan dianggap tidak beretika.

Jonru juga mempertanyakan relevansi foto? Apa relevansinya? So why and so what Jonru?

Salah satu relevansinya adalah sang fotografer ingin menunjukkan sosok Jokowi di awal tahun 2016 dengan harapan Indonesia bisa berkembang ke arah yang lebih baik, dan penuh dengan harapan-harapan baik (dengan simbol matahari pertama terbit di awal tahun 2016).

Setiap orang pasti ingin memiliki citra diri yang baik. Tidak ada yang salah bila Fotografer Presiden ingin menunjukkan kesederhanaan figur Jokowi dengan berpenampilan menggunakan kemeja panjang putih dan juga sarung. Dan itu adalah sah-sah saja bukan? Demikianlah pengamatan kecil penulis. Hati-hatilah dalam mengkritisi sesuatu. Jangan menyampaikan kritik yang terkesan menuduh karena bisa jadi akan merugikan diri sendiri.

Salam hangat.

 

Sumber: Kompasiana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed