by

Menjadi Buruh itu Anugrah

Saat pergantian shift itu adalah penderitaan paling menyebalkan buat saya. Metabolisme tubuh saya tidak bisa beradaptasi cepat atas perubahan pola tidur. Menjengkelkan sekali. Tapi itulah hidup. Kita tdk bisa memilih karena itu aturan yang harus diikuti. Semua buruh harus ikut aturan itu.

Masa itu bekerja dari pukul 7 pagi ke pukul 7 malam hal yang lumrah. Sistem 7 to 7. Ada 4 jam lembur. Kadang kita tidak pernah melihat matahari pagi dan sore. Pagi bangun jam 05.30 wib. Sampai mess karyawan jam 9 malam.

Tapi meski begitu, kami buruh senang dengan adanya lembur itu. Soalnya gaji bisa tiga kali lipat gedenya dari basic salary. Itu artinya setiap bulan bakal dapat gaji lumayan gede dan bisa beli TV, Mini Compo atau motor. Sebagian bisa kredit rumah.

Tapi tentu akibat sistem kerja 7 to 7 itu tidak ada waktu lg untuk melakukan kegiatan lain. Ujungnya kami seperti robot yang candu untuk mendapatkan upah lebih dari kerja lembur.

Menjadi buruh itu bukan kutukan. Kita harus bersyukur bisa bekerja. Kita bersyukur bisa mendapat gaji. Sayangnya banyak buruh yang kurang bersyukur. Etos kerja rendah tapi tuntutan macem2.

Menjadi buruh itu buat saya adalah menjadi mahasiswa yang digaji perusahaan. Kita bisa belajar banyak hal dan bisa meningkatkan skill dan pengetahuan.

Kuncinya adalah kerja dan mau belajar terus menerus.
Jika sudah siap berlayar, keluar dari perusahaan adalah langkah bijak meniti masa depan lbh baik lagi.

Jangan pernah menyesal menjadi buruh.

Selamat Hari Buruh.. Semoga Buruh Indonesia bahagia dan sejahtera…

Salam perjuangan penuh cinta
Birgaldo Sinaga

 

Sumber : facebook Birgaldo Sinaga

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed