by

Mengkhawatirkan Papua

Oleh : Fauzan Mukrim

Semalam saya me-WA atasan.

“Mas, ijin bertanya sesuatu,” tulis saya. Sebelumnya agak lama baru dibalas. Maklum, jam 23.32 ketika saya mulai nge-chat.

“Genting ini,” balasnya.

“Banget.”

“Makanya tadi pas pulang kok kincir di toko roti ndak muter.”

Saya kasih ikon ketawa ngakak. Dahulu waktu beliau belum sesibuk sekarang, kami sering ngobrol bercanda, indikator keamanan negara itu salah satunya kincir Holland Bakery muter apa nggak.

Padahal saya cuma mau tanya, “Kue yang kemarin dibagi itu, beli atau bikin sendiri?”

Kemarin sebelum pulang, dia membuka tutup kotak bekalnya dan membagikan beberapa potong kue di situ. Saya yang sedang sakaw karbo, dengan tak tahu diri langsung mengambil dua potong. Lalu dia pulang, dan saya lupa bertanya itu kue apa.

Barulah ketika di rumah saya keingat lagi, kue yang dibagi itu kok enak ya. Dan saya berniat menanyakan tapi baru terealisasi menjelang tengah malam. Dia sudah pulang, saya baru sampai kantor.

Maksudku kalau dia beli lagi, saya mau nitip juga besok-besok.

Ternyata kue itu dibelikan oleh istrinya. Dipesan dari kota lain via tokped.

“Aku malah ndak begitu seneng. Manis banget, bukan?” katanya.

Wkwkwwk. Suami durhaka, pikirku. Istri sudah susah-susah beliin malah dia nggak suka dan dibagi-bagi.

Sebaliknya menurutku kue itu enak banget. Saya tidak tahu namanya, tapi mengingatkanku pada kue bugis bolu peca cuma yang ini lebih kering. Agak terlalu manis memang, Andai manisnya dikurangi sedikit, sudah sempurna sekali itu,

“Berat ini kalau sudah nyenggol memori,” katanya.

“Wkwkw. Iya, soalnya memori gak ada klisenya.”

Saya ingat salah satu cerpen Mas Wendo, katanya kenangan nggak bisa dicetak ulang karena nggak ada klise atau film negatifnya. Itu sebabnya ketika disambar kenangan, kita berusaha untuk menghadirkan lagi wujudnya.

Tepat jam 00.00 hari Jumat, kami mengakhiri chat absurd itu. Saya tidak tahu apakah dia nanya ke istrinya atau nggak, akhirnya kami dapat kesimpulan. Kue itu namanya carrot cake.

Tapi kok perasaanku nggak ada rasa-rasa wortelnya ya?

Sudah. Saya rasa tidak perlu diperpanjang lagi. Saya mempersilakan dia melanjutkan tidurnya. Bagaimanapun, dia bos saya. Saya merasa tidak sopan sudah mengganggunya malam-malam.

Dan saya melanjutkan bekerja. Memantau-mantau kejadian malam ini. Ada kabar kerusuhan di Pasar Jayapura, bentrok antara warga asli dan pendatang. Entah ada hubungannya dengan kasus Lukas Enembe atau tidak.

Juga kerusuhan di Iran terkait kasus Masha Amini. Masha ditangkap polisi moral Iran karena dituding memakai jilbab dengan tidak benar, dan dia tewas saat dalam penahanan polisi. Warga protes, dan kerusuhan pun pecah. Remuk hati ini rasanya. Kok bisa ya masih ada kejadian seperti itu, di Iran pula.

Balik ke dalam negeri, ada seorang perempuan bernama Nita di Bandung mengajukan pra peradilan akibat dituntut oleh mantan kekasihnya. Berat sekali problem hidupnya.

Tapi sepertinya award untuk problem terberat hari ini kategori perempuan diraih oleh Hasnaeni. Dia baru saja diangkut ke Rutan Salemba setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi di PT Waskita Beton Precast. Sempat histeris dan mengamuk dia ketika dimasukkan ke mobil tahanan. Hasnaeni ini orang kaya, beberapa tahun lalu pernah viral karena fotonya terpampang di mana-mana mengaku sebagai “Wanita Emas”. Nggak tau juga emas di sebelah mana maksudnya. Kalau cuma di gigi sih mungkin biasa, tapi kalau emas seluruh badan ya berat juga dibawa-bawa. Midas juga nggak bakalan

Sumber : Status Facebook Fauzan Mukrim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed