Mengintip curhatan Presiden Joko Widodo kepada Ibundanya

“Jokowi itu sangat mencintai Indonesia, dia mau ada perubahan yang lebih baik, dia tau negeri ini butuh keteladanan, sejak menjabat walikota, dia tdk pernah menerima uang gajinya, semuanya diserahkan kepada stafnya, mas david, untuk menyerahkan langsung kepada rakyat yang membutuhkan. Ini beneran nak ustadz, saya nda mengada2, dulu saya pernah iseng bertanya kepadanya, ‘Gajimu sebagai walikota berapa toh?’ Jokowi menkawab seperti yg saya ceritakan tadi, dia tdk pernah menerimanya kecuali hanya menanda tangani berkas penerimaan gaji saja.

Sejak menjabat walikota, Jokowi juga berupaya mendidik anak2nya agar bisa melanjutkan bisnis kayu yg dirintisnya sejak lama, tapi anak2nya nda berkenan, Gibran dan Kaesang malah merintis usaha catering dan martabak. Bisnis kayu dan pabriknya tetap berjalan dan dikelola orang kepercayaannya. Menurut Bu Noto, selama menjadi walikota, gaji sopir dan urusan dapur keluarganya benar2 tdk diambil dari penghasilannya sebagai pejabat negara, “semuanya murni dari pabrik”, tegas Bu Noto.

Pamanku yang ikut dalam pertemuan di rumah Bu Noto yg sederhana ini, Gus Aang, Pengasuh Pesantren Assalam Bogor, sepertinya penasaran dengan model pendidikan seperti apa yang diterapkan kepada Jokowi kecil, “Apa ada keajaiban saat pak jokowi kecil bu? Atau apa yg ibu lakukan kepada beliau?” Tanya Gus Aang. Bu Noto tertawa kecil, ia menjawab, “Nda ada yang aneh mas, seperti pada umumnya anak kecil dan ibu-ibu yang lain memperlakukan anaknya, saya hanya beroesan kepada Jokowi bahwa siapapun meski dari keluarga biasa-biasa saja akan bisa jadi orang besar dan berpangkat tinggi bila mau kerja keras, jujur, ikhlas dan tidak mau menyerah, itu yang saya tanamkan sejak Jokowi kecil.”

Sebuah jawaban yang kebenarannya kita saksikan sekarang, bangsa Indonesia tentu bangga memiliki Presiden yang visi dan misinya selalu kerja, kerja dan kerja. Semoga pekerjaan yang belum selesai ini dapat beliau lanjutkan hingga periode yang akan datang.

Adzan maghrib berkumandang, Bu Noto segera berbuka puasa, saya menyaksikannya penuh keharuan, kekuatan sang Presiden sedang duduk bersahaja hanya beberapa jengkal di sampingku. Bagi Pak Jokowi, Sang Presiden, dan bagiku juga, “Bila engkau mau berjalan memenangkan kehidupan jangan pernah lukai hati ibu, buatlah ia selalu tersenyum agar restunya membimbingmu menuju jalan kemenangan.”

Aku pamit dan segera mencium tangan Ibunda yang semakin tampak sepuh seraya lirih berkata, “akui enha sebagai anakmu ya bu,” dan airmataku mau tumpah saat beliau menjawab, “iya nak ustadz.”

Solo, 19 Mei 2017

Sumber : facebook Enha

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *