by

Mengharap Pada Penerus Jokowi

Oleh : Karto Bugel

Kasih saja waktu 5 tahun lagi, saya yakin Indonesia akan melompat jauh. Dia punya blueprint jelas atas target Indonesia maju. Tapi apa daya, konstitusi tak memberi izin. Artinya, kita hanya bisa berharap pada penerusnya saja.

Lalu ketika pertanyaan berikutnya adalah apakah ketiga nama capres yang saat ini beredar itu akan bisa, bila jujur harus jadi jawaban, gak yakin. Lebih tegasnya, gak bisa.

Kenapa? Lihat saja pencapaian mereka pada jabatan sebelumnya. Dari tiga nama itu, gak ada satupun yang moncer. Gak ada satupun fenomena luar biasa pernah mereka torehkan.

“Koq cuma itu alasannya?”

Tahun 2030 hingga 2040 adalah puncak bonus demografi negara ini. Di sisi lain, kita adalah negara dengan kepemilikan SDA paling penting di dunia. Adakah satu diantara 3 orang itu memberi rasa urgent pada dua masalah genting itu, sepertinya tidak.

Gak ada data mereka bicara soal penting dan genting itu. Bila ada dan pernah terucap, hanya retorika belaka. Gak ada blueprint jelas yang harusnya tersirat dalam gagasan atau obrolan sempat muncul dari mulut ketiga orang itu.

Bagiku, ketiganya masih bicara gimmick, bukan esensial. Dua dari tiga bacapres itu hanya ingin terlihat sewarna dengan Jokowi, tapi jelas bukan Jokowi banget.

“Kenapa bonus demografi dan kekayaan SDA bangsa ini jadi ukuran?”

Ini soal data, bukan reka – reka. Ini soal fakta sejarah sebuah bangsa yang bisa sangat maju meski mereka tidak punya SDA.

Dan ternyata, jawabannya sangat mudah, mereka mampu memanfaatkan bonus demografinya dengan benar. Buktinya negara itu mampu membuat rakyatnya pintar sekaligus inovatif. Tanpa kepemilikan SDA yang berarti pun negara – negara itu justru melompat sangat tinggi.

Apa ukurannya, perkapita negara – negara itu sangat tinggi. Pendapatan Per Kapita adalah ukuran jumlah uang yang diperoleh per orang di suatu negara atau wilayah geografis.

Kita ambil contoh Korea Selatan dan satu negara lain yang secara geografis sangat dekat dengan kita, Singapura.

Baik Korsel dan Singapura, keduanya adalah negara sangat miskin SDA. Tapi ketika bicara kualitas manusianya, jangan ditanya.

Data bicara bahwa pada 2021 perkapita Korsel adalah 34.998 dolar AS dan Singapura 72.795 dolar AS. Kita, Indonesia, pada 2022 adalah 4.783 dolar.

OK jangan dibandingkan dengan Indonesia tapi Arab Saudi saja biar gak njomplang. Sama dengan Indonesia, Arab Saudi sangat kaya raya dengan SDA atau minyaknya. Pada 2021, perkapita Arab Saudi adalah 23.186 dolar.

Itu jauh lebih tinggi dari Indonesia tapi jelas sangat tertinggal dengan Korsel apalagi Singapura.

Padahal, pada 1980 atau 4 dekade yang lalu, per kapita Arab Saudi sudah pada posisi 16.176 dolar sementara Singapura baru pada 4.928 dolar dan Korsel 1.715 dolar AS.

Kerajaan Arab setelah 40 tahun memang mampu bikin rakyatnya lebih kaya hampir setengah kalinya, tapi Korsel 20 kali lebih dan Singapura 14 kali lebih kaya pada warga negaranya.

Arab Saudi yang kaya minyak itu ternyata tak mampu lebih mensejahterakan rakyatnya ketika disandingkan dengan Korsel dan Singapura yang tidak punya apapun. Dan itu karena sebab Korsel dan Singapura tahu pilihan, membuat rakyatnya pintar.

“Bagaimana dengan Indonesia?”

Pada sekitar 1980 hingga 1990an, perkapita kita adalah sekitar 1.155 dolar AS. Itu tidak jauh dari perkapita Korsel yang 1.715 dolar.

Bila dalam 40 tahun Korsel naik 20 kali lipat, kita naik hampir 3 kali lipat. Kita yang kaya raya dengan SDA sangat tertinggal oleh negara yang boleh dibilang sangat miskin dalam bidang itu.

Artinya, bila target bangsa ini adalah bikin rakyatnya pintar, bonus demografi 2030 hingga 2040 itu harusnya krusial. Gak bisa memanfaatkan bonus itu justru akan jadi beban. Bisa membuat mereka pintar jelas adalah tambahan lokomotif.

Dan anda semua tahu dampak anak bangsa yang pintar tapi sekaligus punya SDA. Bukan cuma seperti Singapura dan Korsel, kita bukan mustahil akan jadi super power seperti AS, China dan Rusia. Tiga super power itu punya banyak orang pintar dan SDA nya berlimpah.

“Masalahnya kita bisa nggak mengambil moment dari bonus demografi itu ?”

Ya itu tadi, 3 capres kita hingga hari ini tak tampak punya wajah bisa. Itu menurut saya loh…😉

Kenapa, karena pembangunan manusia itu gak bisa dilakukan hanya dengan citra belaka, itu perjuangan, darah dan air mata.

Gak ada orang

hebat lahir dari pencitraan apalagi tiba – tiba terlihat luar biasa bisa melakukan apa saja hanya dalam masa pilpres. Itu polesan bukan DNA.

Belum ada capres – cawapres definitif. Resmi pendaftaran capres dan cawapres masih sampai bulan November nanti. Di antara 270 juta rakyat ini mustahil kita tidak punya satu atau sepuluh orang yang bisa disisipkan dan cocok dengan arah Indonesia

hebat.

“Kalau parpol yang ada ngotot hanya pada 3 nama itu gimana?”

Yo embuh…. Resikonya sudah jelas, bonus demografi itu bukan memberi cuan tapi beban. Angkatan kerja yang tidak bisa bekerja jelas bukan lokomotif tapi cuma jadi promo naif.

Buatku, ribut banyak pihak dengan saling jegal, saling njelekin dan hingga saling puji bahwa calonnya adalah capres yang

terbaik sepanjang masa, itu cuma bentuk lain dari rebutan cuan, sukur – sukur ada nyangkut jabatan komisaris kelak.

Dari banyak narasi yang sudah terbangun, mustahil militansi luar biasa mengerikan itu demi tujuan mulia, demi masa depan rakyat dan negara Indonesia. Itu slogan basi.

Gak ada makan siang yang gratis, itu saja.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed