by

Menggoblok-Goblokkan Umat, Perlukah?

Ketidaktahuan tidak sama dengan kegoblokkan. Ketidaktahuan terjadi bukan karena ignoransi, tetapi karena keterbatasan akses. Sebelum sekolah S-1 di Jogja, contohnya, saya juga tidak tahu apa bedanya Protestan dan Katolik karena memang di kota kelahiran saya tidak pernah mendapatkan buku atau memperoleh informasi mengenai hal itu.

Sementara itu, secara normatif, tuduhan goblok terhadap agama memang tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari supremasi sains dan filsafat selama berabad-abad, sekurang-kurangnya setelah era modern. Sejak fajar kemoderenan menyingsing dari Eropa abad ke-18, sejak saat itu pula agama dianggap peninggalan abad pertengahan yang kekanak-kanakan. Ungkapan “agama adalah candu” lahir dari situasi ini. Melalui imprealisme dan kolonialisme, pandangan ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Mereka yang suka menggoblok-goblokkan umat beragama adalah ahli waris dari proses sejarah yang telah berlangsung sejak abad ke-18 itu. Hingga kini mereka masih percaya bahwa agama seperti celana dalam, tidak boleh diperlihatkan keluar. Beragama hanya boleh diam-diam dan sendirian. Oleh karena itu pula, bagi mereka agama dan politik tidak boleh disatukan.

Kembali ke soal seorang mualaf yang mengaku anak kardinal itu, saya melihatnya sebagai komedian belaka. Tidak perlu kemudian menggoblok-goblokkan umat beragama yang mempercayainya. Anggap saja hiburan, tokh kita bisa ketawa-ketawi, bukan? 

Sumber : Status Facebook Amin Mudzakkir

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed