by

Menggelar Akademik

Kindness, mindfulness, compassion menjadi mantra baru pendidikan. Kira-kira kalo dibahasakan sederhana jadinya gini: Saat JIWAmu dan FISIKmu sehat, kamu bisa menemukan keunikanmu, mengembangkannya dan menebar manfaat/impact ke lingkungan.

“A clear mind leads to better judgement, better judgement leads to better outcome. So a mindfull, calm, peaceful person will make better decisions and have better outcome” katanya.

Apakah mantra baru pendidikan Kindness, Mindfulness, Compassion membuat tugas guru dan orangtua menjadi lebih mudah?

TIDAK.

Karena mantra baru pendidikan ini menuntut para orangtua dan guru terlibat langsung menjadi role model pendidikan anak-anak.

Bagaimana bisa mengajarkan integritas jika ortu dan guru ga punya integritas. Bagaimana bisa mengajarkan berpikir kritis kalau ortu dan guru didebat dikit langsung nuduh anak kurang ajar. Bagaimana bisa mengajarkan mindfulness jika tiap hari anak melihat banyak orang dewasa gelisah dan bersumpah serapah di sosmed?

Jadi yang masih ngos2an push anak melulu di akademis, ranking, medali dan pencapaian2 jangka pendek, sebaiknya menata ulang strategi. Ndak usah cemas saat nilai mereka di sekolah biasa2 aja.

Cemaslah saat anak tumbuh egois, stress, ngga bisa gaul, ga punya compassion. Cemaslah saat anak ngga punya kesadaran untuk belajar. Cemaslah saat anak tidak mampu berpikir kritis dan beropini secara sehat dan terbuka.

Dan itu semua, mostly ga related dengan pencapaian akademisnya.

Sumber : Status Facebook Iim Fahima Jahja

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed