by

Mengenang Tragedi Trisakti

Oleh : Tito Gatsu

Tepat 24 tahun yang lalu terjadi tragedi kemanusiaan menjelang berakhirnya kekuasaan rezim diktaktor paling korup di dunia , sang Angkara murka yang selama 32 tahun menguasai Indonesia akhirnya lengser pada tanggal 21 Mei 1998. Diikuti dengan kehancuran ekonomi dan moral , moral yang buruk seperti kita lihat para pengikutnya sekarang ini yang senang melakukan kekerasan. Menjelang lengsernya Soeharto, telah terjadi aksi mahasiswa besar-besaran hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan tuntutan perubahan akan pemerintahan yang demokratis serta reformasi total.

Demonstrasi mahasiswa itu ditangani dengan pola-pola represif, melalui pembubaran aksi-aksi demonstrasi mahasiswa, penembakan di luar proses hukum, maupun tindakan penganiayaan lainnya. Dalam unjuk rasa yang dilakukan pada 12 Mei 1998 berakhir dengan kematian 4 mahasiswa Trisakti akibat penembakan aparat kepolisian dari satuan Brigade Mobile Polri maupun TNI yang berjaga. Tragedi Trisakti tersebut menimbulkan kerusuhan berikutnya yang utamanya terjadi di Medan, Jakarta dan Surakarta.

Dalam peristiwa tersebut, sasaran utama kerusuhan ini ialah orang-orang keturunan Tionghoa beserta aset-aset yang mereka miliki. Kerusuhan Jakarta selain terjadi di sekitar Jembatan Semanggi juga menyebar ke berbagai daerah Jabodetabek. Penjarahan tempat perbelanjaan umum, yaitu Matahari di daerah Jatinegara dan Plaza Yogya di Klender berakhir tragis dengan tiba-tiba dibarikade dan terbakar. Sebanyak 1.000 orang yang terperangkap di dalam akhirnya tewas terbakar hidup-hidup

Tragedi Kematian 4 Mahasiswa Trisakti

Pada Juli 1997, Kawasan Asia mengalami krisis finansial yang mempengaruhi mata uang, bursa saham dan harga aset lainnya di beberapa negara di Asia. Setelah Korea Selatan dan Thailand, Indonesia termasuk negara yang terkena imbas paling parah. Krisis yang melanda Indonesia dikenal dengan istilah krisis moneter atau krismon. Dimana harga-harga bahan pokok naik, inflasi parah dalam sejarah Indonesia terjadi.

Situasi tersebut mengakibatkan berbagai persoalan yang telah lama dirasakan masyarakat menjadi muncul dan semakin kompleks. Salah satu yang nampak adalah mahasiswa turun ke jalan untuk mengecam kenaikan harga dan menuntut turunnya Presiden Soeharto yang sudah terlalu lama menjabat sebagai Kepala Negara karena pada pemilu 1997 Soeharto kembali terpilih dan menjadi Presiden RI untuk keenam kalinya.

Hingga awal tahun 1998 ekonomi Indonesia semakin memburuk, mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran ke Gedung DPR/MPR di Jakarta yang terjadi mulai 10 Maret 1998. Dalam unjuk rasa yang dilakukan pada 12 Mei 1998 berakhir dengan kematian 4 mahasiswa Trisakti yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royadin dan Hendrawan Sie. Peristiwa penembakan oleh Brigade Mobile Polri dan TNI tersebutdikenal sebagai tragedi Trisakti.

Proses Hukum Mengecewakan Keluarga KorbanKeluarga korban yang mendesak negara untuk bertanggung jawab atas kasus ini harus berjuang keras menghadapi berbagai rintangan, baik yang bersifat politis maupun legalistis formal. Pengadilan Militer untuk kasus Trisakti yang digelar pada 1998 menjatuhkan putusan kepada 6 orang perwira pertama Polri. Sementara pada 2002 pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada 9 orang anggota Gegana/Resimen II Korps Brimob Polri. Tahun 2003 pengadilan militer juga menggelar persidangan bagi pelaku penembakan pada peristiwa Semanggi II yang belum jelas hasilnya.

Pengadilan militer ini menimbulkan kekecewaan dari keluarga korban, karena hanya mengadili perwira bawahan dan tidak membawa pelaku penanggung jawab utama ke pengadilan. Selain itu, pengadilan militer yang digelar merupakan pengadilan yang bersifat internal. Desakan mahasiswa dan keluarga korban terus berlanjut, sehingga DPR membentuk Pansus Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II pada tahun 2000, yang bertugas melakukan pemantauan proses penyelesaian kasus tersebut.

Pada 2001, Pansus menyimpulkan bahwa tidak terjadi pelanggaran berat dalam kasus Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II serta merekomendasikan penyelesaian melalui proses yang sedang berjalan di pengadilan umum atau pengadilan militer. Hasil itu juga mengecewakan keluarga korban. Pada akhirnya proses hukum yang berjalan mandeg dalam proses penyelidikan. Hal ini tentu saja mengecewakan keluarga korban.

Jangan sampai terjadi lagi seperti tragedi Trisakti jangan sampai salah memilih pemimpin apalagi pemimpin fasis yang mau menggunakan agama untuk memecah belah persatuan Indonesia Salam Kedaulatan Rakyat,

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed