by

Mengenang Didi Kempot

Bakat dan “darah” seni Didi Kempot mengalir dari ayahnya, Ranto Gudel alias Mbah Ranto, seorang seniman terkenal di Jawa Tengah. Bakat seniman sang ayah juga mengalir ke kakak Didi Kempot: Mamiek Prakoso, pelawak senior Grup Srimulat.

Berbeda dengan para penyanyi lain, Didi Kempot tergolong super-produktif dalam menciptakan lagu. Konon ada 700an lagu yang sudah berhasil ia nyanyikan, sebagian besar karyanya sendiri. Dengan angka ini, saya kira tidak ada penyanyi lain di Indonesia dan mancanegara yang mampu menyamai rekornya.

Lagu-lagu Didi Kempot rata-rata bertemakan kehilangan dan patah hati, dua hal yang sering atau mungkin selalu dialami oleh setiap manusia, termasuk saya. Karena itu sangat wajar kalau ia dijuluki sebagai “The Godfather of Broken Heart”. Wajar pula kalau banyak orang, termasuk saya, menyukai lagu-lagunya.

Sudah sejak kuliah S1 di UIN Semarang saya menyukai lagu-lagu Didi Kempot, dan semakin jatuh hati saat kuliah S2 di UKSW Salatiga pada tahun 2000. Lagu-lagu Didi Kempotlah, baik yang dinyanyikan oleh pengamen maupun melalui kaset, yang selalu menghiburku di dalam pengapnya bus ekonomi Semarang-Salatiga yang tiap hari “kombak-kambek” mengantarku kuliah. Sewu Kutho, Mbak Dukun, Lilo, Cidro, Lindu, Lingso, Sekonyong-Konyong Koder, Stasiun Balapan adalah diantara lagu-lagunya yang menjadi hiburan kala itu.

Kini “Lord Didi” meninggalkan “Sobat Ambyar” yang sedang gandrung-gandrungnya. Selamat jalan Didi Kempot. Semoga damai di alam baka. Dan semoga kelak akan muncul Didi Kempot-Didi Kempot baru yang peduli terhadap kemanusiaan sekaligus mencintai seni-budaya Nusantara. “Ning Stasiun Balapan; Balapan kok ning stasiun, opo ora kesel….”

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumber : Status facebook Sumanto Al Qurtuby

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed