by

Mengecam Fatwa UAS Soal Catur adalah Intoleran

Bagi yang sudah belajar fiqih secara mendalam, saya yakin tak akan mempermasalahkan fatwa UAS soal catur. UAS hanya mengukuti salah satu pendapat ulama. UAS bukan bikin fatwa baru.

Menurut Imam an-Nawawi dari kalangan mazhab Syafi’i: Main catur itu makruh. (Tapi jika melalaikan salat, jadi haram). Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad: haram. Imam Malik: catur lebih jelek dari dadu, karena lebih melalaikan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: Ulama ikhtilaf tentang hukum main catur. Sebagian mereka membolehkan, karena membantu strategi perang. Di antara mereka Imam Sa’id ibn Jubair dan Sya’bi, tapi syaratnya tiga: A. Tidak judi, B. Tidak melalaikan waktu salat, C. Menjaga lisan dari kata-kata buruk.

Daru sini saja saya kira sudah jelas. Hukum catur itu khilafiyah. Tidak hanya catur. Dalam persoalan fiqih, nyaris selalu ada khilafiyah. Khilafiyah dalan fiqih adalah sesuatu yang niscaya dan justru menjadi rahmat. Karena kebenaran fiqih bersifat relatif, maka khilafiyah-khilafiyah dalam fiqih dibenarkan. Ummat dipersilahkan untuk memilih pendapat yang mana. Dalam, catur, ummat disilahkan mau memilih pendapat yang memperbolehkan maupun yang mengharamkan.

Dalam tradisi intelektual ummat Islam, para ulama saling menghargai dan menghormati pendapat yang berbeda. Tak ada yang saling menyalahkan. Ulama sekelas Imam Syafi’i saja menyatakan bahwa pendapatnya mungkin benar, mungkin juga salah. Pun begitu dengan pendapat orang lain yang mungkin benar dan mungkin salah.

Dalam fiqih bukan tentang pendapat mana yang paling benar, tapi bagaimana bisa menghormati pendapat yang berbeda. Relativitas dan sifat dzonniyah kebenaran fiqih menjadikan ada beberapa pendapat yang dianggap benar semua. Maka kemudian lahirlah beberapa madzhab. Bahkan dalam satu madzhab pun masih ada perbedaan di kalangan ulama.

Artinya perbedaan pendapat dalam persoalan fiqih adalah biasa. Lalu kenapa harus diributkan? UAS punya hak untuk memilih pendapat bahwa catur itu haram. Kita pun punya hak untuk memilih pendapat bahwa catur itu hukumnya boleh. Sama-sama punya hak.

Untuk non muslim tak perlu ikut-ikutan ribut. Hukum Islam hanya berlaku untuk umat Islam, bukan non Islam. Jadi santai saja dengan fatwa UAS. Tak pelu risau dan ikut-ikut menyalahkan apalagi menghina UAS. Fatwa ini tidak ada hubungannya dengan ummat non Islam. Jangan sampai karena kebencian kalian kepada UAS menjadikan kalian memperlakukan tidak adil.

Bagi ummat Islam yang masih meributkan pendapat UAS soal catur, sebaiknya belajar lagu fiqih secara mendalam agar tidak bikin malu. Protes dan kecaman kalian kepada UAS menunjukkan betapa dangkal ilmu kalian. Fatwa bahwa catur haram bukan sesuatu yang baru. Sudah ada ulama yang sebelumnya mengharamkan. UAS hanya mengikuti pendapat ulama yang mengharamkan catur, dan beliau berhak untuk memilih.

Saya melihat ada upaya untuk terus menjatuhkan UAS. UAS memang kontroversi, tapi terus menyalahkan, menghina, dan mencaci maki karena fatwa catur yang disampaikan UAS pada tahun 2017 sangat tidak elok. Kenapa tidak sejak 2017 dulu ributnya? Seelain belajar fiqihnya kurang, ternyata kurang update. Di zaman dimana teknologi informasi begitu maju, ribut-ribut di tahun 2019 untuk sesuatu yang terjadi tahun 2017 adalah memalukan.

Berhenti ngomongin soal toleransi jika belum bisa menghargai pendapat orang lain. Menyalahkan, menghina, dan mencaci maki UAS karena fatwa soal catur adalah tindakan intoleran !

 

(Sumber: facebook Saefudin Achmad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed