by

Mengapa Muslim Ahmadiyah Terus Diganggu?

Oleh : Mamang Haerudin

Saya meyakini jika ada banyak sekali umat Muslim yang menganggap bahwa Islam Ahmadiyah itu sesat. Oleh karena jangan aneh jika perilaku vandalisme terhadap Muslim Ahmadiyah kembali terjadi dan–tidak menutup kemungkinan–akan terus berulang. Bahkan dalam level yang paling ekstrem, Muslim Ahmadiyah itu halal dibunuh, diusir dari Negara ini dan dikucilkan. Jadi perusakan Masjid komunitas Muslim Ahmadiyah Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang hanyalah bom waktu.

Bahkan dalam waktu cepat atau lambat akan menyusul perusakan Masjid atau rumah warga Muslim Ahmadiyah di daerah lain. Diakui atau tidak, banyak sekali umat Muslim di Indonesia yang benci terhadap segala komunitas Muslim yang sesat, selain terhadap agama-agama lain, terutama Kristen. Salah satu dasarnya adalah lebel sesat dari MUI. Non Muslim yang diakui agamanya saja dibenci dan dirusak, apalagi Muslim Ahmadiyah. Maka pernyataan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas yang mengutuk agar para pelaku ditindak tegas secara hukum, sama sekali tidak akan membuat mereka jera. Umat Muslim yang ekstrem lebih bangga di penjara sekali pun ketimbang membiarkan ajaran sesat Ahmadiyah menjamur di Indonesia.

Maka dari itu, untuk meminimalisir kemungkinan terburuk lainnya ke depan, Pemerintah melalui Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) dan pihak-pihak terkait lainnya, untuk segera duduk bersama. Buatlah keputusan bersama apakah Islam Ahmadiyah itu diakui atau tidak, sesat atau tidak. Sebab kalau tidak, akan terus menjadi paradoks. Bagi kita yang waras ya, merusak dan melakukan kekerasan itu tidak diperbolehkan, namun kita tidak bisa mengendalikan nafsu angkara murka sebagian banyak Muslim yang lain. Sepanjang tidak ada keputusan bersama tersebut, saya meyakini bahwa sepanjang itu pula Muslim Ahmadiyah akan terus diperlakukan secara tidak adil dan diskriminatif.

Saya melihat belum ada keseriusan dari Pemerintah dan pihak-pihak yang saya sebutkan tadi atas keberadaan Muslim Ahmadiyah di Indonesia. Para aktivis pluralisme pun masih “membela” hanya pada bagian kulit dan formalitas saja. Belum pada substansi dan akar masalahnya. Hanya sekadar menyatakan sikap ramai-ramai, lalu memang ada beberapa oknum pelaku yang ditangkap aparat, keadaan kembali normal, selang beberapa waktu akan terjadi lagi. Begitu saja terus. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed