by

Mengapa Kritik Harus Dinamis?

Oleh : Amin Mudzzakir

Sejumlah orang berkomentar, si Amin sekarang kritis karena tidak dapat apa-apa dari Jokowi, kurang lebih demikian. Dulu dia bela Jokowi sekarang tidak, kata yang lain. Suara-suara seperti itu kerap terdengar. Tanpa bermaksud membela diri, sejak dulu hingga sekarang saya tidak pernah meminta apapun kepada siapapun. Bahkan ketika berfoto dengan Jokowi, saya melakukannya karena memang diundang. Lagi pula, secara pribadi dan apalagi sebagai abdi negara, saya sangat hormat kepada beliau.

Jika sekarang saya terlihat lebih kritis kepada pemerintahan, itu terjadi karena struktur dan relasi kekuasaan berubah. Jika sebelum 2019 kekuatan politik di luar pemerintahan cukup kuat, maka sekarang sebaliknya. Saat ini semua kekuatan politik utama berkumpul di dalam pemerintahan. Ini adalah masalah besar. Kritik harus didasarkan pada dinamika struktur dan relasi kekuasaan tersebut, bukan pada figur seseorang.

Poin ini perlu terus diingatkan agar kritik tidak terjebak pada kebencian personal. Kritik dialamatkan kepada kecenderungan penumpukan kekuasaaan yang cukup pasti berdampak buruk bagi kepentingan rakyat kebanyakan. Logika kritik berdasarkan dinamika struktur dan relasi kekuasaan tersebut mestinya juga dipakai ketika kita memahami isu Islam politik. Jangan terus menerus menganggap mereka sebagai ancaman bagi toleransi, sebab sejak 2019 dapat dikatakan penopangnya sudah tidak ada.

Tentu saja menjelang 2024 konstelasi akan berubah lagi, makanya mari kita perhatikan dinamika tersebut secara cermat dan tepat. Kritik yang dinamis adalah inti yang saya pelajari selama sekolah tinggi-tinggi. Alih-alih diberlakukan secara pukul rata kapan dan di mana pun, kritik yang baik adalah kritik yang dinamis–tergantung pada struktur dan relasi kekuasaan yang berubah.

Kritik pada 2014-2019, oleh karena itu, mungkin berbeda dengan kritik pada 2019-2024 dan seterusnya. Jika kritik Anda sejak dulu hingga sekarang tidak berubah, di situ-situ saja, berarti Anda memang layak mendapatkan gelar doktor atau profesor honoris causa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed