Mengapa Jokowi Harus Melepaskan Susi?

Ketika Susi masuk kabinet, tantangan terberat kementrian KKP ialah merajalelanya pencurian ikan. Walau Kita punya ikan sangat banyak (karena laut Kita sangat luas), namun orang2 asinglah yang menikmatinya. Sementara nelayan Kita dan industri perikanan Kita cuma bisa gigit jari. Punya ikan banyak, tapi industri perikanan nasional tak punya bahan baku, akibat semua dikuras oleh pencuri2 ikan dari negara2 asing. Tak ada menteri yang pernah bisa menyelesaikan itu. Tak ada menteri (bahkan presiden) mau/berani menyelesaikan itu. Mengapa? Karena nilai ekonomi ikan yang dicuri itu besar sekali. Melibatkan uang ratusan trilyun rupiah. Melibatkan banyak sekali pejabat2 negara. Nggak main2, dan enggak tanggung2. Dan maling2nya dengan cerdik (licik) memakai paradigma korupsi ala orde baru, bagito, alias bagi roto. Semua dibuat kecipratan. Semua dibuat ternoda. Semua dibuat bau amies. Makanya tak ada orang yang cukup suci untuk berani membongkar semua dosa2 seluas lautan itu.

Sampai akhirnya Jokowi memilih Susi sebagai Ratu Lautan Indonesia. Sama seperti Jokowi, Susi juga tidak mempan suap, sudah punya cukup uang untuk dirinya sendiri, cinta orang kecil (nelayan) karena pernah jadi orang susah. Dia juga tak takut mati. Maka semua siluman laut dihajarnya tanpa ampun. Enggak perduli itu ular, buaya, hiu, atau bahkan naga. Semua dia tenggelamkan. Dalam hal bertarung di lautan, Susi Pujiastuti begitu garang, seperti Laksamana Malahayati dari Aceh, perempuan yang ditakuti armada laut Belanda dan Portugis dimasa lalu. Semua pencuri ikan keder dengan Susi. Dan tak butuh waktu lama, laut Indonesia pun kembali tenang. Nelayan2 Indonesiapun senang. Laut Indonesia beserta seluruh kekayaannya kembali menjadi milik nelayan Indonesia. Luar biasa sekali.

Setelah laut bisa ditenangkan karena keberanian Susi berperang, tibalah saatnya untuk membangun industri kelautan. Inilah adalah babak baru, persoalannya juga baru. Ikan sudah kembali banyak, karena sudah tidak dicuri lagi. Harus bisa segera diolah, agar menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat. Sebab apalah gunanya ikan banyak di laut, kalau tak bisa diolah dan diubah jadi kesejahtraan bagi rakyaf? Kalau sudah disini maka yang dibutuhkan bukan lagi nyali untuk menggebuk pencuri. Membangun industri butuh kalkulasi dan strategi. Juga butuh koordinasi. Disini kelemahan Susi. Dia bukanlah manusia yang berlatar belakang konseptual. Sekolahnya cuma sampai SMP. Dia murni eksekutor, bukan konseptor. Menghajar pencuri dia jagonya. Menggertak koruptor dia ahlinya. Tapi bikin konsep industri kelautan, yang butuh implementasi dari banyak konsep dan teori, Susi kedodoran.

Maka mulailah timbul masalah. Kebetulan Menkonya adalah Luhut Panjaitan, jenderal Kopassus yang juga sangat berprestasi, yang juga seorang pekerja keras. Sama2 tegas, sama2 keras. Menko Luhut minta Susi mulai fokus membangun industri, jangan cuma nenggelamin kapal pencuri terus. Mungkin nada bicaranya ke Susi masih seperti komandan Kopassus. Dan celakanya Susi bukan tentara. Dia tidak pernah jadi anak buah siapapun. Diperintah jenderal kopassus tidak membuatnya gentar. Dia tetap kukuh pada programnya sendiri, fokus menjaga lautan. Sebab disitulah keahliannya. Sebab disitulah passionnya. Maka mulai muncullah drama. Menko Kemaritiman terlibat ketegangan dengan anak buahnya. Susi yang pemberani bahkan nekat absen rapat dengan Menkonya yang jenderal. Tentu saja Sang Jenderal meradang. Sebagai militer teladan dia sangat sulit menerima pembangkangan. Dia terbiasa disiplin dalam tugas, termasuk disiplin menghormati atasan. Target kerjanya jadi terganggu. Sang Jenderal tentu tidak.mau gagal dalam tugas. Gagal dalam tugas itu sebuah cela/aib bagi seorang jenderal sekaliber Luhut Panjaitan. Kalau dulu masih di militer, ketemu anak buah yang berani membangkang mungkin sudah digampar oleh Luhut. Tapi itu dulu. Sekarang Luhut bukan lagi tentara aktif, dan Susi juga bukan sersan yang bisa dia buat takut dengan kumisnya.

Maka teganglah suasana kabinet Jokowi. Belum lagi protes dari nelayan mulai berdatangan kepada Susi, yang kalau bikin aturan juga tegas dan keras. Bahkan Gubernur Maluku pernah mengajak menteri Susi berperang, karena merasa dirugikan dengan kebijakan Susi, yang dianggapnya tidak berpihak kepada nelayan dan industri perikanan Maluku. Maka kabinetpun menjadi heboh. Maka Jokowi jadi pusing. Maka Wong Solo itu mau tak mau harus memilih. Kisruh di.kabinet bisa mengancam kesuksesan program Jokowi dalam mensejahtrakan bangsa. Energi bisa habis hanya untuk ngurusin kabinet, bukan ngurusin rakyat.

Pilihan Jokowi akhirnya melukai banyak orang, khususnya yang sudah terlanjur kesengsem sama Susi, seperti Saya. Akhirnya Jokowi pilih Luhut. Bukan karena Susi buruk. Tapi semata2 karena tantangan di laut sudah berubah. Susi sudah membuat lautan aman. Skillnya sudah sangat maksimal disitu. Sekarang dibutuhkan keahlian lain. Susi kurang bagus dalam menghadapi persoalan baru ini. Maka dengan terpaksa Jokowi mencari orang lain. Selain bisa bekerja konseptual, menteri kelautan yang baru juga harus bisa bekerja sama dengan Menkonya yang jenderal kopassus itu. Sebab kabinet itu tidak boleh one man (or one woman) show. Harus bisa kerja tim. Susi lemah disitu. Dan dengan sangat berat hati Jokowi mengeliminasi.

Lalu mengapa Luhut dipertahankan?

Bagi Jokowi Luhut bukan sekedar menteri. Luhut itu lebih mirip bodyguard bagi Jokowi. Jaringan / networking Luhut sangat luas. Baik di bidang politik, keamanan maupun bisnis. Luhut seperti punya mata, telinga dan tangan dimana2. Dan hebatnya lagi, Jenderal Luhut siap jadi martir bagi Jokowi. Karena dia sangat yakin bahwa Jokowi itu sangat sejalan dengan cita2nya terhadap kemajuan Indonesia. Siapapun yang berniat jahat terhadap Jokowi harus berhadapan dengan Luhut. Termasuk Prabowo sekalipun, bila perlu. Luhut sudah membuktikannya.

Secara struktural Luhut memang anak buah Jokowi. Tapi secara batin nampaknya Luhut sudah menganggap Jokowi itu bagai anaknya sendiri. Umur Sang Jenderal memang jauh lebih tua dari Jokowi. Dia akan korbankan dirinya bagi Jokowi, bila itu diperlukan. Naluri seorang ayah yang juga adalah jagoan kopassus. Dalam kondisi yang harus perang total terhadap korupsi dan radikalisme sekaligus, Jokowi memang sangat butuh tank tempur seperti Luhut. Bisa dipakai untuk menyerang lawan yang menakutkan, namun bisa pula dipakai untuk berlindung bila diserang.

Pasti tidak mudah bagi Jokowi untuk memilih. Susi dan Luhut sama2 berarti bagi Jokowi. Tapi kepentingan bangsa jauh lebih besar dari perasaan pribadi. Maka sama seperti ketika Jokowi harus melepas Ahok dengan sangat berat hati dimasa lalu, demikian juga Jokowi harus melepas Susi hari ini.

Cinta memang tidak harus memiliki, kata orang. Dan Jokowi harus menelan kopinya yang pahit, sambil harus tetap tersenyum kepada Anda dan Saya, yang memang sangat butuh penghiburan, agar Kita bisa menjalani nasib dengan rasa tenteram.

Semoga Bu Susi Pujiastuti sehat selalu. Terimakasih karena sudah mengamankan lautan bagi Kami.

L Tarigan

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *