Menemukan Kesejatian Hidup

Tidak semua orang bisa semudah itu mencapainya, tidak semua orang bisa konsisten menulis setiap hari, sekian tahun. Atau dapat kepercayaan diendorse seleb fesbuk yang bisa membuatmu bertambah followers sampai ratusan orang dalam sehari saja.

Maka saya akhirnya mengerti, jualan ludah itu sebenarnya punya beban moral tersendiri. Kalau yang kamu motivasi nggak kunjung berhasil, jangan sampai mereka justru menganggap diri mereka memang bodoh dan nggak bisa. Memotivasi orang juga semacam nempel post it di dinding kamar kamu sendiri, kamu kudu konsisten sama omonganmu. Minimal jangan merosot dari cerita keberhasilan yang kamu semburkan kemarin. 

Berat toh? Berat. 

Maka kadang di kelas menulis para bakulan newbie saya berpanjang sabar jika menemukan ada saja peserta yang menggunakan tanda baca saja masih ngawur. Naruh koma bingung mesti di mana, apa bedanya sama titik. Atau yang ngasih pertanyaan spektakuler macam bagaimana caranya cepat ngumpulin followers sementara menulis satu kali sehari saja ia rasanya berat. 

Lain cerita lagi jika saya balik ke dapur saya sendiri. Ada lima asisten di sana, empat orang itu orang-orang lama. Jikalau saya menjual mimpi mereka bisa sukses percis kayak saya, yakin mereka akan stres sendiri. Saya pun. Penghasilan karyawan mau diadu dengan penghasilan bos itu bagaimana? Privilege yang saya dapatkan dengan yang mereka dapatkan juga beda. Mereka tiap hari konsen membuat kue di ruang produksi, saya tiap hari ngider keliling dunia lewat medsos. Nama saya semakin dikenal, mereka tetap sunyi senyap terkecuali saya mention nama mereka sesekali. 

Saya ngajarin anak dapur saya menabung dan mengelola uang sedari tahun pertama membuka toko ini. Berhasil? Kagak juga. Satu dua jarang banget kasbon, oh karena satunya punya support system keluarga yang cukup baik, satunya memang sudah terbiasa mengelola uang. Yang lain ada macam-macam alasan gagalnya. Boro-boro punya support system, merekalah yang jadi tulang punggung sekaligus tulang rusuk dan tulang-tulang lainnya di keluarga mereka. Palingan saya ajari disiplin dengan kasih aturan minimal kasbon 500 rb dan kasbon mulai tanggal 10 bulan berjalan. Pas tanggal 10, 500rb itu langsung dieksekusi wkwkwk…

Maka beban yang saya pilih untuk dpikul adalah saya mentransfer ilmunya saja, tidak fokus pada kalian harus sukses kayak Bu Mimi. Mereka belajar tekniknya, latihan, melakukan pengulangan dan membaik seiring waktu. Keterampilan bertambah signifikan dengan hasil yang lebih baik, saya apresiasi dengan naik gaji atau hadiah. Dan yang terutama adalah rasa percaya diri mereka timbul dan tetap melekat. 

Tidak bisa cepat kaya raya tapi bisa bekerja maksimal dengan kepala tegak dan rasa bangga, pulang membawa hasil yang cukup untuk keluarga, kerja dalam suasana yang nyaman dan selalu dapat dukungan dari atasan, itu sudah baik sekali. Saya bahkan menghindari menggunakan kata miskin demi memotivasi mereka. Saya kuatir mereka salah mengolah ucapan saya hingga bukannya termotivasi malah membuat harga diri dan kepercayaan diri mereka merosot. Seolah menjadi miskin itu salah, sebuah kemalangan dan Tuhan sungguh tidak adil.

Dari tidak ada menjadi ada. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari bisa menjadi pintar. Begitu seterusnya. Bahwa kerja-kerja biarpun kecil nilai dan hasilnya tetap dihitung ibadah. Menafkahi keluarga pun adalah jihad terdekat. Kalau mereka gagal misalnya, kasih semangat lagi bahwa besok mereka masih punya peluang untuk mencoba lebih baik.

Medan peperangan yang kita hadapi setiap hari adalah berbeda. Pilihan paling sederhana untuk berkontribusi terhadap sesama adalah tetap saling menyemangati dan saling mendoakan.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *