by

Menebak Munarman Proxy Siapa

Oleh : Islah Bahrawi

Rekam Jehak digital Bagaimana Sombongya Biang kerok Teroris di negeri ini siapa lagi kalau bukan MUNAROH!! Terorisme adalah kejahatan luar biasa, penindakan bisa saja dilakukan sebelum atau sesudah terjadinya aksi teror. Penegak hukum tidak akan menangkap seseorang tanpa ada alat bukti yang cukup. Terlebih untuk aksi terorisme, polisi melakukan penangkapan setelah melakukan pendalaman yang kuat terkait keterlibatan seorang terduga teroris.Penangkapan yang dilakukan sebelum aksi teror, adalah langkah antisipatif sebelum para teroris memakan korban yang masif.

Namun penangkapan yang dilakukan setelah peristiwa teror, biasanya menyasar mereka yang dianggap mengetahui konstruksi aksi teror – baik secara langsung atau tidak. Penangkapan Munarman, setidaknya berada pada posisi ini.Perjalanan panjang irisan Munarman dengan jaringan ISIS Makasar mulai terkuak setelah peristiwa bom Katedral Makasar. Kehadirannya dalam Bai’at ISIS pada tahun 2015 yang dilakukan di markas FPI Makasar menjadi petunjuk awal.

Beberapa anggota jaringan ISiS Makasar yang telah ditangkap menyebut nama penting – selain tokoh FPI Makasar berinisial AS – juga menyebut nama Munarman. Bahkan mereka juga bernyanyi bahwa Munarman hadir dalam Bai’at berikutnya di beberapa tempat.Kelompok ISIS Makasar sejak 2015 mulai menggunakan FPI sebagai patron utama pengembangan jaringannya.

Mereka berhasil mencetak beberapa “pengantin bom”, termasuk pelaku bom gereja di Jolo, Filipina dan Katedral Makasar. “Pengantin” yang lain berhasil ditangkap oleh Densus 88 dalam enam pekan terakhir, sehingga gagal melakukan aksinya. Penemuan TATP (triacetone triperoxide), bahan bom berdaya ledak tinggi di markas FPI Petamburan adalah hasil pengembangan yang sedang didalami.Penindakan kejahatan terorisme kadang menimbulkan polemik. Mengingat gerakannya yang tertutup, orang awam kadang sulit untuk percaya bahwa terduga teroris betul-betul layak tangkap. Banyak orang – bahkan politisi – menentang penangkapan terduga teroris dengan narasi sentimen agama.

Tapi merunut pada beberapa kejadian, justru merekalah yang paling awal menghujat pihak keamanan ketika aksi teror gagal diantisipasi. Mereka para politisi pragmatis, yang matanya terhalang oleh ambisi buta politik atau perutnya yang buncit.

#lawanintoleransi

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed