by

Mencatut Nama Allah

« ان رجلانِ في بني إسرائيل متؤاخيين، فكان أحدهما يذنب، والآخر مجتهد في العبادة، فكان لا يزال المجتهد يرى الآخر على الذنب فيقول : أقصر . فوجده يوما على ذنب فقال له : أقصر . فقال : خلّني وربي أبعثت عليّ رقيبا ؟ فقال : والله ! لا يغفر الله لك – أو لا يدخلك الله الجنةَ ! – فقبض أرواحهما، فاجتمعا عند ربّ العالمين، فقال لهذا المجتهد : كنت بي عالما، أو كنت على ما في يدي قادرا ؟ وقال للمذنب : اذهب فادخل الجنةَ برحمتي، وقال للآخرِ : اذهبوا به إلى النار » (رواه احمد وابو داود)
“Dua orang bersaudara dari Bani Israel, satunya pendosa, lainnya ahli ibadah. Yang ahli ibadah selau menasehati pendosa dan berkata: Berhentilah! Suatu hari dia mendapatinya sedang melakukan dosa dan berkata: Berhentilah! Orang itu menukas: ‘Biarkan urusanku dengan Tuhanku, apakah kamu diutus kepadaku sebagai pengawasa? Yang ahli ibadah berucap: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak memasukkanmu ke surga!’ Kemudian keduanya meninggal dan menghadap Allah. Allah berkata kepada sang ahli ibadah: ‘Kamu pikir kamu tahu Aku atau kamu mau ambil alih kekuasaan-Ku?’ Allah kemudian berkata kepada sang pendosa: ‘Pergilah ke surga karena rahmat-Ku.’ Kepada sang ahli ibadah, Allah berkata: ‘Pergilah ke neraka (karena kamu mencatut nama-Ku)’ (HR Ahmad dan Abu Dawud).”

Kenapa Allah murka? Karena orang pertama bersumpah dan mencatut nama Allah. Dia membreidel sifat Allah demi egonya. Padahal, Allah bukan hanya Dzat yang Maha Menghukum, tetapi Maha Mengampuni.  « فيغفر لمن يشاء ويعذِب من يشاء » (البقرة: ٢٨٤). Seandainya orang pertama marah dan mengumpat-umpat tanpa mencatut nama Allah, Allah mungkin tidak akan semurka itu. 

Allah berwenang atas segala sesuatu. Manusia tidak boleh mengancam dengan ancaman Allah atau menjanjikan janji Allah. Yang boleh dilakukan manusia hanya menyampaikan ancaman Allah dan janji Allah (وما علينا الا البلاغ). Selebihnya urusan-Nya. Dalam hadis sahih riwayat Bukhârî, Rasulullah pernah menegur seorang perempuan Anshar yang salehah, bernama Umm Alâ’. Keluarganya menampung Utsmân bin Maz’ûn, sahabat Muhajirin yang terkenal ahli ibadah. Ketika Utsmân wafat, dia berkata: 
« رحمة الله عليك أبا السائب شهادتي عليك لقد أكرمك الله »
“Rahmat Allah membersamaimu wahai Abu Saib. Aku bersaksi bahwa Allah telah memuliakanmu.”

Mendengar ucapan Umm Ala’, Rasulullah  menegur: ‘Dari mana kamu tahu Allah telah memuliakannya?” Allah kemudian menjelaskan bahwa orang boleh saja berharap seseorang diliputi kebaikan atau husnul khatimah karena rekam jejak perbuatannya. Tetapi, dia tidak boleh memastikan nasibnya karena itu otoritas Allah.

Berharap dan mendoakan boleh, memastikan tidak boleh. Seandainya Umm Alâ’ berkata, ‘Aku bersaksi kamu orang baik’ tanpa mencatut otoritas Allah dan memastikan nasibnya, mungkin Rasulullah tidak akan menegurnya. Rasulullah kemudian mengajarkan prinsip tauhid tingkat tinggi dan bersabda: 
« وما أدري والله وأنا رسول الله ما يفعل بي »
“Aku ini Rasulullah dan demi Allah aku juga tidak tahu nasibku.”

Ini tentu saja pelajaran bagi umatnya, karena Rasulullah telah dijamin oleh Allah dengan ayat:
« ليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر ويتم نعمته عليك ويهديك صراطا مستقيما » (الفتح : ٢)
Pelajaran yang sama disampaikan Rasulullah dalam sabdanya:
« لن ينجي أحداً منكم عمله٠ قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟  قال: ولا أنا، إلا أن يتغمدني الله برحمة » (متفق عليه)
“Tidaklah seseorang di antara kalian yang selamat karena amalnya. Sahabat bertanya, ‘Tidak juga engkau wahai Rasulullah.’ Nabi menjawab, ‘Tidak juga aku, tanpa rahmat Allah menyelimutiku’.” (HR. Bukhârî-Muslim).
Ini pelajaran penting bagi kita semua: jangan gemar mencatut nama Allah! Jangan menjanjikan janji Allah!

Jangan mengancam dengan ancaman Allah. Tugas kita hanya menyampaikan janji Allah dan ancaman-Nya. Menyampaikan janji beda dengan menjanjikan janji. Kalau menjanjikan janji berarti kamu yang berjanji, padahal kamu tidak bisa menjanjikan sesuatu yang di luar otoritasmu. Begitu juga terkait ancaman-Nya. Nasib manusia semua di tangan Allah, bukan di tanganmu. Allah bahkan telah mengingatkan Nabi Muhammad:
« ليس لك من الأمر شيء أو يتوب عليهم أو يعذبهم » (ال عمران : ١٢٨)
“Tak ada sedikit pun wewenangmu dalam urusan mereka itu apakah Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka” (QS Ali Imran/3: 128).

Allah memaklumi kelemahan manusia karena nafsunya. Tapi jangan sekali-kali egomu untuk memuaskan diri atau melaknat orang lain dibungkus atas nama Allah. 
Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed