Menanti Gebrakan Pemuda Satu Ini, Gibran Rakabuming

Kembali ini suara orang nyinyir yang biasanya buta sejarah dan fakta. Ingat kembali pilkada Solo di tahun 2004. PDI Perjuangan merekomendasi siapa? Joko Widodo. Siapa Joko Widodo di tahun 2004? Hanya orang biasa, tukang mebel, bukan bangsawan, bukan anak pejabat, bukan pula pengurus partai. Mengapa terpilih? Inilah insting politik seorang Megawati.
Ia seperti bisa menerawang dan menilai seseorang. Terutama kepada mereka yang datang untuk mendapat restu ikut Pilkada. Sekali lagi, Joko Widodo bisa dikatakan sebagai bukti dan sejarah bahwa orang biasa pun bisa jadi apa saja (walikota, gubernur hingga presiden). Dan Jokowi saat ini kebetulan adalah seorang presiden dan juga bapaknya Gibran.
Maka menarik untuk mengikuti serta menanti seperti apa gebrakan demi gebrakan yang akan dilakukan anak muda ini di kota Solo. Apakah akan seperti orangtuanya atau melebihi ekspektasi, atau justru terpuruk dan gagal? Dari perspektif usia, ia memiliki jiwa kemudaan (jiwa muda, bukan artinya terlalu muda). Dalam arti ia memahami betul akan perkembangan zaman sekarang ini yang banyak dikuasai oleh kaum muda.
Padahal Kota Solo sendiri adalah sebuah kota tua yang penuh dengan adat dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Agak kontradiksi namun justru menarik untuk diketahui seperti apa wajah kota Solo nantinya. Di hari pertama paska pelantikan saja Gibran sudah langsung turun (blusukan) ke pasar-pasar untuk memastikan rencana vaksinasi massal pedagang pasar.
“Pokoknya dalam seminggu ini kita tidak libur. Kita akan kebut mengerjakan PR yang harus diselesaikan,” ujarnya. Ia juga berjanji akan ada gebrakan terhadap kasus-kasus narkoba juga penyakit masyarakat seperti PSK. Dan kita diminta bersabar menanti apa gebrakan tersebut. Sebagai seorang pengusaha sukses yang mandiri, tentu ia menguasai betul manajemen pemasaran, bagaimana membuat sebuah produk bisa menjadi laku.
Inovasi-inovasi yang out of the box seperti ini yang ditunggu masyarakat. Eranya kini masa transisi dari konvensional menuju modernisasi namun tanpa meninggalkan tradisi. Menarik juga melihat bagaimana nanti “kolaborasi” antara Pusat dengan Pemkot Solo, antara Jokowi dengan Gibran, putera sulungnya. Pastinya, Solo kini berada di bawah kepemimpinan seorang yang muda, modern, tapi tetap menjaga tradisi. (Awib)
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *