Mempolitisasi Ayat untuk Pilkada Udah Nggak Laku

Oleh: Ustad Abu Janda Al Boliwudi
 

Foto di atas diambil kemarin (Jum’at) di salah satu Posko Teman Ahok di Jakarta.. Dukungan KTP dari Muslim DKI terus mengalir meski telah diancam azab neraka.

Kenapa? Karena melawan Allah? TENTU BUKAN. tapi karena Muslim saat ini sudah cukup CERDAS bisa membedakan yang mana tafsir sohih, yang mana tafsir politis.

Terutama Muslim segmen kota besar seperti DKI, tentunya sudah tidak mudah jadi korban POLITISASI ISLAM eksploitasi ayat & dalil demi memenangkan calon saat Pilkada, demi kekuasaan semata.

Karena Muslim kota besar sudah punya pemahaman yang bagus akan hakekat Islam, yakni KEBAIKAN. Bila penerapan Islam tidak baik, artinya SALAH TAFSIR, habis cerita.

Kita ambil saja contoh.. Al-Quran, Al-Maidah 51

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi PEMIMPIN-PEMIMPIN (mu)….dst.” (Al-Quran, Al-Maidah 5:51)

Kalimat kedua ayat tersebut berbunyi, “la tattakhidul yahuda wan nasaro awlia”

“la tattakhidul” = jangan mengambil
“yahuda wan nasaro” = yahudi & nasrani
“AWLIA” = ??

“awlia” TIDAK harus berarti pemimpin, bisa juga berarti penolong, sekutu, kawan, TERGANTUNG pada Asbabun Nuzul (sebab turun ayat), peristiwa yang memicu ayat tersebut difirmankan.

Turunnya Al-Maidah ayat 51 adalah saat terjadi PERANG dengan Bani Qaynuqa (klan Yahudi) yang melanggar Piagam Madinah. Ubadah bin Shamit mendatangi Rosulullah untuk mengadukan Abdullah bin Ubay anggota klan Arab yang dianggap berdiri di pihak Yahudi.

Abdullah bin Ubay mengajaknya membuat pakta perjanjian dengan klan yahudi yang isinya tidak memihak (merugikan) klan Arab. Turunlah Al-Maidah ayat 51, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai SEKUTU-SEKUTU-(mu)”

(diriwayatkan Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim & Imam Baihaqi)

Maka “Awlia” pada Al-Maidah ayat 51 berdasarkan Asbabun Nuzul (sebab turun ayat) memiliki arti SEKUTU dalam situasi perang, BUKAN PEMIMPIN dalam keadaan damai.

ARTINYA SEKUTU, BUKAN PEMIMPIN

Penerapan ayat ini merujuk kepada yahudi & nasrani yang MEMERANGI umat Islam dalam situasi PERANG, BUKAN mengacu kepada non muslim yang hidup harmonis dengan umat muslim dalam situasi damai.

Begitu juga dengan asbabun nuzul ayat-ayat lainnnya yang berbunyi serupa. JANGAN AMBIL SEKUTU (dalam keadaan perang), BUKAN jangan ambil pemimpin dalam keadaan damai.

Selamat berakhir pekan!
Ustad Abu Janda al-Boliwudi

(Sumber: Facebook)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *