In Memoriam, Rumah Proklamasi

Tokoh dibalik pemberian rumah itu adalah seorang Jepang bernama Hitoshi Shimizu, pegawai Sendenbu, divisi propaganda Jepang, Gunseikanbu yang saat itu menjadi penggerak Gerakan Tiga A. Ia meminta syarat agar Soekarno mau menjadi pemimpin PUTERA (Pusat TeTenaga Rakyat) dan ia menyetujuinya. Sebagai imbalan Jepang menyediakan sebuah rumah dan mobil untuk Bung Karno. Permasalahannya tidak sesederhana itu, sebelum ditempati rumah tersebut telah di tinggali seorang perempuan Belanda, yang suaminya baru saja ditahan tentara Jepang. Mendengar permintaan Basri, sang nyonya rumah marah besar dan menolak untuk pindah, walau dijanjikan akan dipindahkan ke rumah yang lebih besar. Hitoshi jugalah yang kemudian melakukan upaya paksa memindahkannya.

Rumah ini simbol bahwa Soekarno adalah koloborator penjajah!

Kedua, tak lama setelah menempati rumah tersebut. Justru yang dilakukan adalah menceraikan Inggit Ganarsih. Perempuan yang selama ini mendampinginya dalam suka duka masa pembuangan baik di Ende maupun Bengkulu. Dariapadanya, ia “hanya” memperoleh dua anak angkat: Riwu Ga dan Kartika. Keduanya diminta untuk memilih untuk ikut “Bapak” atau “Ibu”. Itu pun dengan meminta jasa mulut Bung Hatta, Kiyai Mas Mansyur, dan Ki Hadjar Dewantara. Belakangan semua publik tahu alasan percearian keduanya, karena Soekarno sudah ngebet menikahi Fatmawati yang dikenalnya selama dI Bengkulu. Kelak di rumah ini pula Fatmawati, yang kemudian ditetapkan jadi pahlawan nasional karena ialah yang menjahit bendera pusaka. Walau kemudian juga terkena “karma” karena tidak hanya sekali ia dimadu oleh Soekarno, tapi nyaris enam kali.

Walau karena kesetiaannya, Inggit kemudian lebih dikenang sebagai istri teladan yang dikenang sepanjang zaman.

Ketiga, setelah Soekarno dan Hatta hijrah ke Yogyakarta, awal Januari 1946, “Rumah Proklamasi” dijadikan kantor Perdana Menteri Soetan Sjahrir. Disinilah, Sjahrir kerap memimpin rapat kabinetnya, serta menerima tamu. Ketiganya sempat disebut sebagai Tritunggal, dengan foto legendaris duduk di satu kursi rotan yang sama. Namun bahkan sebelum dwi tunggal itu berantakan, tri tunggal lebih dulu. Nasib Hatta yang juga banyak menentang kebijakan Soekarno, tidaklah seburuk Soetan Sjahrir. Sebagai orang kiri, yang kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI), yang walaupun juga mendasarkan pada ajaran Marx-Engels. Namun sangat anti pada gaya Leninisme-Stalinisme. Ia sangat anti- kekerasan dan anti-Soviet. Karena itulah ketika terjadi pemberontakan PRRI/Permesta, ia dituduh terlibat. Hingga hubungannya dengan Soekarno memburuk. PSI dibubarkan tahun 1960, lalu dari tahun tahun 1962 Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke. Sjahrir adalah cerita tragis perseteruan politik yang paling mengharukan sepanjang Indonesia masih ada.

Jas merah? Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Pret…

Lah yang mengajarkan itu, bahkan melakukannya! Apa pun pertimbangannya, itulah salah satu luka sejarah yang tak tersembuhkan. Boleh lah ia kemudian membangunkan monumen dan bangunan penting yang baru! Tapi kenyataan membuktikan ia jugalah yang melenyapkan “bangunan paling bersejarah” bagi bangsa ini. Pantas bahwa sepanjang masa sesudahnya bangsa ini selalu linglung dan canggung.

Lalu orang seperti biasa akan berujar pada perihal: Tidak ada manusia yang sempurna. Orang boleh salah asal tidak bohong. Timbanglah jumlah kebaikannya dibanding keburukannya.

Lalu semua jatuh lemah, serba salah, ngaku kalah….

.

.

.

NB: saya hanya percaya pada pamali abadi yang berkata “kuantar kau ke pintu gerbang, tapi ku tak kauajak masuk”. Jangan suka kalau digoda dengan apapun yang namanya pintu gerbang, pilihlah yang tanpa pintu saja..

Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *