In Memoriam Moammar Khadaffi & Pelajaran Dari Kejatuhannya

Malam pertama kami di Tripoli, kami  keluar dari hotel menuju downtown untuk makan malam. Keliatan hampir tidak ada sama sekali pengaruh Barat di Libya. Tidak ada reklame tulisan barat. Tidak ada restoran fast food. Tidak ada jaringan retail international. 

Kami kesulitan menemukan tempat untuk makan. Akhirnya terperangkap di restoran lokal yg semua menu berbahasa Arab termasuk komunikasi. Terpaksa memesan makanan dg cara menunjuk menu yg ada di meja orang lain. 

Kunjungan kami di tahun 2008 ke Tripoli dalam rangka akuisisi Blok Minyak. Kebetulan relasi saya di London yg juga punya hubungan kerabat dg keluarga Raja Arab berminat untuk membeli. 

Dari kontak bisnis saya, baik pihak swasta maupun pejabat di Tripoli,  sebetulnya saya sudah membaca keadaan akan jatuhnya Gaddafi hanya masalah waktu. 

> Kalau belakangan AS terlibat langsung menyerang Libia dg alasan membela HAM atas tindakan brutal tentara Gaddafi menyerang kelompok oposisi di Benghazi, sebetulnya bukan atas dasar kebijakan geopolitik AS secara resmi. Itu lebih kepada tindakan inteligent yg digerakkan oleh kelompok yg punya dendam pribadi dg Kolonel Gaddafi. 

> Mengapa ? Karena Gaddafi punya target menjatuhkan kerajaan Arab Saudi dan pernah terlibat di belakang upaya pembunuhan raja Arab.

>Kita bisa lihat situasi di Libia paska kejatuhan Kolonel Gaddafi. 
Bendera Al Qaeda dan HT berkibar di Benghazi. 

> Semua tahu walau Al Qaeda secara resmi musuh bagi AS namun secara tidak resmi dipiara dan didukung oleh inteligent AS untuk tujuan geostrategis bagi kepentingan TNC dan pemimpin yg mendapat proteksi dari AS. 

> Terbukti setelah Gaddafi jatuh, AS langsung keluar dan meninggalkan persoalan besar bagi Libia. Apa itu ? Hancurnya persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat. 

> Belum lagi Al Qaeda tahu benar bagaimana mendapatkan uang billon dollar dari kekacauan itu. Emosi agama bergaung tiada henti saling fitnah satu sama lain sehingga kekacauan terus terjadi. Semua kebanggaan sebagai bangsa, kemakmuran yg dicapai berpuluh tahun era  Gaddafi, kini tinggal masa lalu. 

Kini Libia dianggap sebagai negara gagal. Namun pundi pundi uang Al Qaeda semakin banyak dan mereka elitnya menikmati kemelimpahan hidup di Dubai dg setiap malam pesta bersama wanita wanita cantik dan wine mahal. 
Sementara rakyat Libia kelaparan. 

Ya agama hanyalah cover politik & alat menipu rakyat yg bego. 
Itulah pelajaran mahal dari keadaan Libia. 
Narasi agama di tangan petualang, tidak bisa membedakan Iman & Politik. 
Tidak bisa membedakan srigala & kelinci…
KIta harus senantiasa waspada. 
Jangan sampai nasib negeri ini sama dg Libia hancur karena kebegoaan dan ulah segelintir orang yg rakus.
#DDB
#DejaVu

Sumber : Status Facebook Erizeli Bandaro

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *