by

Memilih Perjalanan Hidup

Oleh : Alto L

Ada orang-orang yang secara sadar memilih pekerjaan-pekerjaan dengan resiko tinggi. Berbeda dengan mereka yang dipaksa atau terpaksa, orang-orang ini akan memberikan dan menunjukkan komitmen terbaik mereka dalam menjalankan pilihan hidup mereka itu.

“Ah, kan kalian/mereka digaji di atas rata-rata”. Kadang orang yang tidak berada di sepatu orang-orang dimaksud meresponnya. Tapi kalau yang bertanya ditanyain balik: Emang berapa sih harga nyawamu? Sebagian besar pasti akan mengatakan: tidak ternilai. That’s it! Nyawa orang-orang pilihan, yang secara sadar memilih jalan hidupnya ini serta sangat tahu persis dan sadar akan resiko pekerjaan mereka adalah tidak ternilai.

Seringkali kita tidak berpikir bahwa sebuah pekerjaan memiliki resiko besar. Hanya karena jarang terjadi insiden, mayoritas publik menilai tak ada resiko kehilangan nyawa. Masih belum banyak orang ketika mencari pekerjaan memikirkan resikonya. Utamanya pekerjaan yang terkait elektrifikasi, bangunan besar, di pedalaman, di lautan luas dan lain sebagainya. Kita sering menimbang ketika mencari pekerjaan fokus pada kompensasi yang bakal diterima. Padahal ada pekerjaan yang jika tidak dikerjakan dengan serius nyawa taruhannya. Misalnya saja pekerja perakit kabel listrik tegangan tinggi, kita tidak sadar ada yang mengerjakan hal-hal begitu.

Kadang memang orang memilih pekerjaan beresiko karena tidak atau minim pesaing. Ya bekerja di zona beresiko itu jarang yang ambil sehingga peluang mendapatkan lebih besar. Contoh sederhana, pekerjaan guru di pedalaman yang masih masuk jawa, itu saja jarang yang bersedia mengambil. Banyak guru memilih pekerjaan yang dekat dengan kota bahkan rumah mereka. Padahal mereka sadar selaku ASN tahu siap ditugaskan dimana saja.

Kembali ke musibah KRI kapal selam Nenggala 402 yang didalamnya terdapat 53 prajurit TNI AL, seharusnya membuat kita tetap waspada. Minimnya insiden di militer laut kita bukan berarti aman-aman saja atau tidak ada bahaya yang mengintai. Apalagi bila yang dioperasikan barang-barang tua atau sudah berusia diatas 20 tahun. Meski rutin dirawat namun resiko itu tetap ada. Kejadian ini juga dapat dijadikan pembelajaran untuk lebih dalam para prajurit kita menguasai peralatan tempur terutama yang berusia tua. Tentu jika negara sudah kembali ke kondisi normal, peralatan memang sebaiknya di modernisasi. Alat-alat modern itu bukan sekedar kalah bersaing dengan negara lain namun juga membahayakan prajurit sendiri.

Resiko pekerjaan mereka ada yang bisa dipublikasi, tetapi lebih banyak berada dalam kesunyian, baik di atas permukaan laut, maupun di bawah permukaan laut. Kepada para prajurit terbaik TNI yang memilih jalan hidupnya bersama Nanggala 402: May her comfort keeps you warm and protected under the depth of the seas. Thank you for your service.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed