by

Membaca Dukungan Keluarga Gus Dur

Umat Muslim sebagai mayoritas tentulah sangat besar peranannya.

‘Saya mencita-citakan, Umat Islam Indonesia menjadi umat beragama yang berpandangan luas. 
Mampu memahami orang lain. Menumpahkan kebersamaannya yang utuh dengan segala pihak.
Menjunjung tinggi kebebasan sebagai sarana demokrasi’ Gus Dur (Editor, Desember 1990)

Rangkaian tulisan diatas saya kutip bebas dari buku Tabayyun Gus – LKIS (2010) dan Sang Zahid – KH Husein Muhammad (2012).

Rabu, 26 September 2018 . . .

Yenny Wahid, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, puteri kedua Gus Dur mengumumkan dukungan Keluarga pada pasangan Calon Presiden dan Wakil dengan nomer urut Satu. Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Seakan melupakan jika ayahnya dulu sering beradu pendapat dengan Kiai Ma’ruf. Bahkan soal ‘Goyang Ngebor’nya Inul Daratista.

Seakan lupa kekecewaan terganjalnya Mahfud MD oleh si ‘Kancil’ Cak Imin. Juga rebutan papan nomer suara juga dengan Cak Imin di KPU lima tahun lalu.

Ada yang lebih penting !

Mbak Yenny memang bicara bahwa penentuan pilihannya karena Pasangan Nomer Satu ini berpikir dan bertindak sederhana, namun kaya dalam karya. Dia pun menambahkan telah berkonsultasi dengan para sesepuh, para Kiai.

Namun Yenny pun mengatakan keputusan ini merujuk pada sosok sang Ayah, Gus Dur . . .

Nah . . . . ! 

Entah sebab cemas atau sekedar kerinduan nuansa teatrikal ‘Kebersamaan dalam Keberagaman’ seperti tulisan diatas, saya ‘membaca’ ada hal lain dengan pilihan Keluarga Gus Dur ini.

Hasil survey Wahid foundation 72 persen warga Indonesia menolak radikalisme. Namun 0,4 persen, 600 ribu orang pernah melakukan dan 7,7 % bersedia melakukan radikalisme. Itu berarti 11 juta orang 

Tentang intoleransi umat Islam, sebanyak 59.9 persen punya kelompok yg dibenci. Non-muslim, Tionghoa, PKI, dll. Dan 92,2 % dari mereka tak setuju kelompok yg dibenci jadi pejabat pemerintah.

Bahkan 84 % tak sudi bertetangga dengan kelompok yg dibenci 

Ketika men-survey Perkemahan Rohis di cibubur bulan Mei 2017, ditemukan 60 persen bersedia berjihad di daerah konflik. Bahkan 68 persen bersedia berjihad di masa datang.

Dari jumlah tersebut 37 persen sangat setuju dan 41 persen setuju, Indonesia menjadi satu dgn sebuah keKhalifahan. Setuju pula negeri ini berbentuk keKhalifahan . . . . 

BIN (Badan Intelejen Negara) menyampaikan sekitar 39 persen Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi terpapar Radikalisme . . . .

Dan masih banyak lagi bukti dan berita tentang Intoleransi, Radikalisme, Persekusi berbau SARA, aksi sweeping para Fundamentalis di lapangan memenuhi keseharian kita. Bahkan di dunia maya ! 

Jadi mengapa Keluarga Gus Dur memilih mendampingi Jokowi-Ma’ruf Amin ?

Saya kira, kita semua boleh keras menduga, paparan diatas itulah yang menjadi salah satu sebab pokoknya. Menjaga agar Sang Biduk tak retak apalagi terpecah belah . . . 

Dan sekarang kekuatan spiritual besar yang tersisa hanyalah NU.

Dan jika ada yg klaim, pengumuman keluarga Gus Dur tak berpengaruh pada warga NU, kaum Nahdiyin. Itu salah besar !

Karena yg mengaku Nahdiyin tapi terpapar Intoleransi, Radikalisme, dan faham Khilafah, itu bukan ‘orang NU’ (lagi) !

Nahdiyin tak mengenal itu !
NU hanya tahu dan ikuti, Habluminallah, Habluminanas, dan Hubbul Wathon Minal Iman !
Ini NU, Bung

 

Sumber : facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed