by

Memaklumi

Oleh: Erizeli Bandaro
 

Tadi pagi seusai sahur saya dan istri harus pergi Tanah Abang ke rumah mertua karena putra saya menitipkan kedua anaknya. Dia mengharapkan kami menjaga anaknya selama dia ada urusan di Jakarta. Dengan suka cita kami berdua menjaga cucu. Jam 11 kedua cucu saya tidur dalam pelukan istri saya. Saya memutuskan pergi untuk menghadiri rapat dengan relasi dari Hong Kong di Hotel Pullman Thamrin. Seusai rapat saya pergi sholat lohor di Masjid di belakang Jakarta Theater. Entah kenapa saya terasa lelah karena kurang tidur dan tertidur di masjid.Baru bangun setelah ada telp dari teman.

Teman ini sudah lama tidak bersua dengan saya. Dia berharap sangat dapat bertemu dengan saya. Dan mendoakan agar saya sehat selalu. Padahal saya sudah janji buka bersama dengan istri . tapi entah mengapa saya menunda acara buka bersama dan lebih mengutamakan bertemu dengan teman itu. Ketika bertemu saya memeluknya. Dia nampak menangis.Saya tersenyum. Untuk mencairkan suasana saya mengajak teman ini buka bersama di hotel berbintang karena kebetulan di mall tidak ada ruang smooking room.

Mengapa saya ceritakan kepadamu tentang teman ini. Karena sekian tahun lalu dia pernah memfitnah saya dan sampai menzolimi saya. Dia berusaha merusak reputasi saya. Tiada hari tanpa hujatan kepada saya. Bahkan acap saya mendengar cerita dari teman betapa dia mengarang cerita tentang keburukan saya. Entah mengapa begitu besar kebenciannya terhadap saya. Andaikan saya balas dengan membuka aibnya tentu akan hancur dia. .Apakah ada aib yang lebih besar di bandingkan dengan hutang? dan dia engga punya apa apa untuk membela dirinya karena kehidupanya memang memprihatinkan. Tapi itu tidak saya lakukan, apalagi berusaha menagih hutang.

Ketika bertemu sambil minum kopi , saya berusaha membuat dia santai tanpa ada kesan saya marah atau kecewa dengan sikapnya dulu. Karena memang saya telah memaafkan segalanya. Kami bicara banyak hal. Dan ketika dia cerita tentang masalahnya. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Berusaha memberikan solusi atas masalahnya. Mungkin saya tidak membantu semua tapi akses bisnis saya dapat meringankan masalahnya. Dia nampak berlinang air mata dengan sikap saya.

Kami berpisah dan saya dapat SMS dari istri saya agar saya langsung pulang saja karena kedua cucu kami sudah kembali ke Bandung. Hari ini saya telah mengambil keputusan untuk menunjukan sikap memaafkan kepada seseorang yang telah menzolimi saya. Tidak dengan membalasnya dengan sikap yang sama dengan dia kepada saya tapi dengan kebaikan. Ketika dia menolak ajakan saya untuk bersilahturahmi , saya membuka diri ketika dia ingin bertemu dengan saya tanpa dendam apapun.

Saya teringat nasehat ayah saya “Kebaikan dengan orang baik itu adalah biasa.tapi berbuat baik kepada orang yang menzolimi kamu itu adalah sifat orang beriman. Tanpa ke cintaan kepada Tuhan tidak mungkin kamu bisa bersikap seperti itu.Mungkin kebaikan kamu tidak kembali kepadamu tapi anak dan cucumu akan mendapatkan berkah dari kebaikan kamu. Hidup mereka akan lapang karena orang tuanya menanamkan kebaikan tanpa berharap apapun karena kecintaannya kepada Tuhan. “

Anak ku..Orang jahat akan selalu ada , teman palsu akan selalu ada, tapi teruslah berteman dan memaafkan mereka. Bukan karena kamu lemah tapi karena memang begitulah seharusnya orang beriman. Berprasangka baiklah kepada siapapun dan ingat sejahat apapun orang kepadamu, itu bukanlah antara kamu dengan mereka tapi antara kamu dengan Tuhan untuk menguji keimanan mu. Selagi sikap ini kamu pegang maka kamu akan baik baik saja. Yang sulit akan jadi mudah, andai rezeki masih jauh akan mendekat, yang rumit akan terurai dengan sendirinya. Karena kecintaan kepada Tuhan itu nak melapangkan hidupmu…pahamkan sayang..

 

(Sumber: Facebook Erizeli)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed