by

Meluruskan Sejarah Wafatnya Soekarno

Oleh : Widhi Wedhaswara

“Aku kembali ke Bandung, ke tempat cinta sejatiku.” Suatu saat di malam 1 suro, langit tampak memerah di sekitar alun – alun kota Sumedang. Menjelang pukul 1 malam, beliau kemudian hadir dengan raut sedih bercampur amarah.

“Aku kasian sama bapak. Semua hanya mengingat ketika dia memakai seragam militer dengan kegagahannya, namun tidak ada yang merasakan bagaimana ketika beliau dihinakan, terasing dan sakit dengan hanya menggunakan kutang, celana pendek dan sandal jepit yang sudah tipis.”

“Semua datang ke rumahnya, tetapi dalam hati meminta kewibawaan, harta, pengasihan. Ga ada yang niat tulus datang mendoakannya, bahkan di hari negara ini dimerdekakan.” “Bapak ingin didatangi, dengan tulus dan ikhlas dan diluruskan sejarahnya.”

Dan tak lama setelah itu ibu pun lenyap. Sosok yang menopang, yang memberikan dukungan sampai akhir hayat. Suatu hari menjelang akhir hayatnya, beliau meminta sesuatu, yang tidak dikabulkan oleh penguasa saat itu. “Di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk…”

21 Juni 1970, beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, setelah beberapa saat lamanya “ditaruh” di Wisma Yaso yang sekarang menjadi Museum Satria Mandala.

Untuk Founding Father, Putra Sang Fajar.

Alfatihah.

Sumber : Status Facebook Widhi Wedhaswara

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed