by

Melestarikan Adat Budaya

Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut…, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak…, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak.

Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia…, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya.

Sejak saat itu…, Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan…, yaitu menyantap daging manusia.

Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat…, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya.

Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi…, karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya…, sisanya lari menyelamatkan diri.

Sang Patih pusing memikirkan keadaan…, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora…, tiba di Medhangkamulan.

Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu…, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya.

Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan…, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih…, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar.

Pada awalnya Sang Patih tidak mengijinkan…, karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu.

Namun Ajisaka sudah bulat tekadnya…, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu.

Sang Prabu tak habis pikir…, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya.

Ajisaka mengatakan…, bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya.

Di samping itu…, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut.

Sang Prabu menyanggupi permintaannya…, Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya.

Sungguh ajaib…, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya.

Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur…., sehingga akhirnya tiba di tepi laut selatan.

Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka…., sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut.

Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih.

Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan…, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada.

Setibanya di Pulo Majethi…, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka.

Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut…, karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi.

Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu…, memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya.

Akhirnya kedua punggawa itu bertempur.

Karena keduanya sama-sama sakti…, peperangan berlangsung seru…, saling menyerang dan diserang…, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka.

Ia sangat menyesal…, mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu.

Kesedihannya mendorongnya menciptakan aksara…, untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu…, yang bunyinya adalah sebagai berikut…:

Ha Na Ca Ra Ka (ada utusan)

Da Ta Sa Wa La (saling berselisih pendapat)

Pa Dha Ja Ya Nya (sama-sama sakti)

Ma Ga Ba Tha Nga (sama-sama menjadi mayat).

Ternyata dari Aksara Jawa itu sendiri banyak maknanya…., serta dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa…:

Setiap Pemimpin dalam membuat keputusan…, harus cermat dan berhati-hati (alon-alon waton kelakon)…, agar tidak terjadi perpecahan demi kepentingan orang banyak.

Sebagai manusia…, harus jujur dan menjalankan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya…, dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih.

Rahayu .

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Wijaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed