Melawan Hukum Matinya Jahiliyah, Bukan Syahid

Adapun kematian yang diakibatkan tindakan arogansi atau perilaku premanisme yang melawan aparat hukum atau pemerintah yang sah sejatinya bukan mati syahid. Dalam sebuah hadis disebutkan:
.
مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
.
“Barang siapa yang melihat hal yang tidak disukai dari pemerintah maka hendaklah ia bersabar. Sebab barang siapa yang memisahkan diri dari persatuan walaupun hanya sejengkal kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliah.” (Shahih Bukhari, IX/47)
.
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan, yang dimaksud dengan mati dalam keadaan jahiliah ialah mati dalam keadaan maksiat, bukan mati dalam keadaan kafir. (Fath al-Bari, XIII/7)
.
Terkait ragam tindakan melawan aparat hukum yang berdampak pada kematian, maka Imam al-Munawi pun menegaskan:
.
(وَعَصَى إِمَامَهُ) … وَإِمَّا بِنَحْوِ بَغْيٍ أَوْ حَرَابَةٍ أَوْ صِيَالٍ … (وَمَاتَ عَاصِيًا) فَمِيْتَتُهُ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
.
“Dan orang yang melawan pemerintah… Adakalanya dengan aksi membangkang, memerangi, atau menyerang… Dan ia mati, maka matinya dalam keadaan jahiliah.” (Faidh al-Qadir, III/324) []waAllahu a’lam
 
Sumber : Status Facebook Asadul Haq

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *