by

Melawan Gerakan Radikalisme

 

Oleh: Denny Siregar

 

Kegaduhan sektarian yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia ini, tidak mungkin luput dari pandangan Badan Intelijen Negara. Hanya model penanganannya yang harus ekstra hati-hati, karena salah bertindak bisa menjadi bumerang bagi pemerintah RI. Kita harus paham bagaimana pola-pola mereka dalam mengadu-domba rakyat di Indonesia dengan berkaca dari apa yg terjadi di Suriah.

Isu sektarian di Suriah awalnya dihembuskan di kalangan masyarakat di daerah. Isu itu semakin berkembang dengan munculnya kelompok-kelompok radikal disana yang mirip dengan ormas2 radikal disini. Ormas radikal di Suriah menghembuskan ketidak-percayaan kepada pemerintah, sama dengan ormas disini yang menghembuskan ketidak-percayaan kepada Pancasila sebagai lambang negara dan ingin menggantinya.

Isu itu semakin membesar karena tidak mendapat penanganan khusus dan akhirnya membelah masyarakat menjadi pro dan kontra terhadap Bashar Assad. Gelontoran dana dari luar membeli ulama-ulama di Suriah utk menghembuskan perpecahan. Ulama yg tidak berpihak kepada mereka kemudian dibunuh, spt peristiwa bom bunuh diri yg menewaskan ulama terkenal Syaikh al Bouthi di Damaskus.

Karena isu pemberontakan meluas, maka tentara Suriah melakukan tekanan kepada kelompok yang kontra pemerintah dan berujung dengan dipenjaranya beberapa tokoh mereka. Perlawanan terhadap pemerintah semakin meluas di daerah, sehingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa dari kelompok militan. Berdasarkan situasi inilah, kelompok militan membangun kelompok perlawanan bernama Free Syrian Army dengan bantuan rekrutan jihadis-jihadis asing yang sudah dipersiapkan di Turki.

Karena itu kita harus mengerti kenapa pemerintah seakan membiarkan ormas-ormas radikal itu bebas berorasi disini. Sebenarnya juga salah jika dibilang membiarkan, karena pemerintah sudah punya formulanya yang dijalankan secara bertahap. Mulai dari pembentukan konsep Islam nusantara, hari santri sampai bela negara adalah bentuk penanganan terhadap virus radikal yang ingin membesar di Indonesia.

Cara bermain pemerintah untuk menangani kelompok radikal, mirip dengan apa yang mereka ingin lakukan dengan KPK sekarang, yaitu lebih mengutamakan konsep pencegahan daripada penangkapan. Dan untuk menjalankan konsep pencegahan itu, masyarakat harus dilibatkan secara aktif.

Cara masyarakat supaya ikut aktif mencegah adalah dengan memainkan isu2 yang sebenarnya menghantam ormas2 radikal itu sendiri. Inilah mainan intelijen. Mereka bukan eksekutor seperti Densus 88. Mereka lebih condong bermain otak daripada otot. Dan tanpa kita sadari, kita sebenarnya sudah terikut permainan intelijen dari BIN, terlihat tapi tidak terasa.

Berdirinya aliansi nasional toleransi (ANAS) untuk menghadapi aliansi nasional anti syiah (ANNAS). Bergeraknya warga Nahdliyin mengusir kelompok wahabi di Aceh dan Madura, tampak seperti kekerasan tapi tidak terjadi bentrokan apa2. Bergeraknya masyarakat Banyumas mendatangi kantor HTI dan memaksa kelompok itu untuk memasang lambang garuda di kantor perwakilannya, adalah model2 yang melibatkan masyarakat aktif melakukan pencegahan supaya kelompok radikal itu tidak berkembang luas.

Bahkan kita harus curiga bahwa reaksi keras masyarakat Sunda membesarkan masalah plesetan sampurasun menjadi campur racun oleh Habib Rizieq, adalah bagian dari permainan intelijen. Masyarakat Sunda yang terkenal halus tiba2 berubah menjadi keras dan menolak FPI di wilayah Jawa barat.

Begitu juga di Bali yang tiba-tiba mencuat masalah wisata syariah dan mengobarkan semangat penolakan. Bisa jadi itu adalah sebuah cara supaya Bali ikut aktif dalam menangkal radikalisme yang berbau timur tengah. Penanda-tanganan piagam tantular yg baru saja dilakukan adalah cara efektif meredam gejolak yg terlihat sengaja dipanaskan dan dibiarkan liar.

Permainan-permainan kontra intelijen ini mirip dengan apa yang dilakukan Jokowi dalam menangani situasi tekanan terhadap pemerintahannya. Belah dua partai lawan, lalu pecahkan koalisi mereka, biarkan mereka merasa diatas angin dan buka kebusukan yg mereka lakukan, lalu biarkan masyarakat yang aktif menilai. Jadikan semua itu bola panas dan liar tapi lokalisir kegaduhannya.

Kalau dibaratkan menyembuhkan kanker stadium 4, pemerintah Suriah melakukan amputasi terhadap organ yang terkena tetapi pemerintah Indonesia melakukan penyembuhan bertahap, meski terlihat mata seperti lamban.

Yang harus menjadi patokan, Jokowi sudah mencanangkan di Internasional bahwa Indonesia adalah model bagi Islam yang cerdas, berwawasan dan ramah bukan tanpa tujuan dan proses. Tujuan sudah ditetapkan dan proses sedang berjalan. Dan bagaimana model pencegahan radikalisme disini tanpa kekerasan atau campur tangan pemerintah adalah dengan melibatkan secara aktif rakyat Indonesia supaya terlibat penuh dan waspada.

“Buatlah jalan musuh memutar dan pancinglah mereka dengan keuntungan..” Tsun Zu.

Ini permainan catur yang menarik dan di samping papan catur tentu ada secangkir kopi hitam yang hangat. 

(Artikel dari Facebook Denny Siregar)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed