by

Mayoritas Menindas

Oleh : Efron Bayern

Anda sudah barang tentu sering melihat atau bahkan memiliki pohon pisang di halaman rumah. Ketika pohon pisang berbuah atau mengeluarkan “jantung”, pemilik mengamati sudah berapa sisir pisang yang terkuak. Saat sudah menampakkan 4 – 5 sisir pisang, jantung pisang dipotong. Mengapa dipotong? Nutrisi atau hara yang dihisap oleh pohon pisang dari tanah akan terus dipasok ke arah jantung pisang untuk pematangan. Dengan demikian nutrisi terbagi-bagi sehingga buah pisang yang sudah terkuak lebih dahulu terkurangi nutrisinya. Untuk itulah pemilik pohon pisang memotong jantung pisang agar nutrisi benar-benar tertuju pada 4-5 sisir buah pisang saja sehingga menghasilkan buah pisang berkualitas tinggi.

Namun sebaliknya apabila jantung pisang dibiarkan tak dipotong, maka kualitas pisang menurun dan hasilnya pisang-pisang mini. Memang ada jenis pisang tertentu yang sengaja dibiarkan berenteng panjang.Hari ini adalah Minggu Kelima Masa Raya Paska. Bacaan Injil secara ekumenis diambil dari Yohanes 15:1-8 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 8:26-40, Mazmur 22:26-32, dan 1Yohanes 4:7-21.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus kembali mengajar dengan menyampaikan metafor, “Aku adalah pokok anggur yang benar dan Allah pengusahanya.” Ranting-ranting yang tidak berbuah dipotong dan dibuang, ranting-ranting yang berbuah dibersihkan agar lebih banyak berbuah. “Aku adalah pokok anggur dan kamu adalah ranting-rantingnya.” Kata Yesus menekankan kepada para murid-Nya. Konteks cerita Injil ini dalam rangkaian “Perjamuan Malam Terakhir” Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya.

Bagi orang-orang Israel zaman dulu kebun anggur dan anggur tidaklah asing, karena kena-mengena pada keseharian. Bahkan Israel sendiri dimetaforkan sebagai kebun anggur di Alkitab Perjanjian Lama (lih. Yes. 5:1-7). Pada awal tulisan hari ini saya memberikan ilustrasi tentang pemotongan jantung buah pohon pisang. Gambaran tersebut untuk menolong para pembaca atau pendengar Indonesia yang barangkali kesulitan membayangkan ranting-ranting anggur yang tidak berbuah mesti dipotong agar ranting yang berbuah bisa berbuah lebih banyak. Injil Yohanes ditulis di penghujung abad pertama. Menurut para ahli PB Komunitas Kristen Yohanes mendapat deraan dan tindasan hebat dari penguasa agama Yahudi. Narasi Injil tentang “Pokok anggur yang benar” adalah kritik terhadap kehidupan beragama para penguasa agama Yahudi dan para pengikut mereka.

Meskipun orang-orang Israel tidak asing dengan kebun anggur dan anggur, Yesus memberi penekanan bahwa Ia adalah pokok anggur yang benar. Benar dalam bahasa Grika adalah alēthinē yang juga berarti asli, sungguh-sungguh. Yesus hendak menyampaikan ada ketidakaslian atau ketidaksungguh-sungguhan atau kepalsuan dalam tatanan masyarakat. Mereka mengaku hidup di kebun anggur sebagai ranting-ranting anggur, tetapi menolak kedaulatan Allah dalam kebun anggur. Dalam Mazmur leksionari kita dikatakan “Sebab TUHAN-lah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Mzm. 22:29).

Setiap bulan Ramadan selalu ada persengketaan mengenai buka-tutup warung makan pada siang hari. Di Kota Serang bahkan menerapkan denda Rp50 juta bagi warung makan yang buka pada siang hari selama Ramadan. Tentu saja cukup banyak orang menentang aturan kota itu. Ada banyak alasan rasional menyanggah larangan buka warung makan. Dalam pada itu penguasa daerah bersikukuh bahwa pelarangan buka warung makan adalah mengadopsi kearifan lokal, tradisi masyarakat muslim di Kota Serang, yang tabu jika ada masyarakat Kota Serang yang berjualan (makanan) pada siang hari.

Saya meyakini tidak sedikit orang Kristen senyam-senyum atas aturan garib di atas. Mana mungkin orang Kristen akan membuat aturan sumbang seperti itu? Begitulah kira-kira dalam benak mereka. Benarkah?Di Kabupaten Toba saat ini sedang digodok Perda tentang pelarangan buka kedai pada Minggu. Tujuannya adalah “untuk menghormati hari kebaktian di kalangan umat Kristen”. Yang mengagetkan usulan ini berasal dari Badan Kerjasama Antar-Gereja (BKAG) Kabupaten Toba. Mengapa mengagetkan? Sudah barang tentu BKAG diisi oleh para pejabat gerejawi. (Sumber: https://medanbisnisdaily.com/…/penutupan_kedai_hari…)

Membaca berita di atas saya tak dapat menahan geli, karena wacana di atas jauh lebih lucu ketimbang apa yang terjadi di Kota Serang. “Kebun anggur” Toba dikelola secara kakistokrasi (kakistocracy) yang penuh dengan kesemuan. Seperti kritik penginjil Yohanes ada ketidakaslian, ketidaksungguh-sungguhan, kepalsuan dalam tatanan penguasa. Mereka mengaku hidup di kebun anggur sebagai ranting-ranting anggur, tetapi menolak kedaulatan Allah di dalam kebun anggur. Seperti juga kata pemazmur “Sebab TUHAN-lah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa” (Mzm. 22:29).

Bangsa-bangsa di sini menyimbolkan keberagaman. Menolak keberagaman berarti menolak kedaulatan Allah. “Masyarakat Kabupaten Toba sangat beragam, ada agama Islam, Parmalim, Adven, dan aliran kepercayaan, “ kata Charles Sitohang, seorang tokoh masyarakat, ”Membuat Perda haruslah bijak.”Agama-agama bukanlah untuk menguasai, apalagi menindas. Agama-agama mestilah mendorong cakrawala kemanusiaan sehingga lebih mencitrakan matra etis secara seimbang dengan dogma dan liturgi. Dogma usang mestinya dipangkas agar buah-buah yang dihasilkan bermutu tinggi.Quote of the day: “Men never do evil so completely and cheerfully as when they do it from religious conviction.” Blaise Pascal

Wassalam,

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed