by

Matinya Kritikus

Jadi, jangan cuma nyalahin generasi sekarang. Para leluhur kita juga memberi contoh buruk, meski bukan berarti tidak ada contoh baik. Sama seperti sekarang, belum tentu politikus atau elite memberi contoh buruk mulu. Orang yang keren, baik hati dan tidak sombong juga ada.

Nggak ada hubungan antara ras, suku, agama, pendidikan, gender, wajah, dengan sikap atau perilaku, juga kecerdasan dan rasa empatinya. Nilailah manusia atas perbuatannya, bukan karena asal-usul atau statusnya. Itu sebab orang Jawa mengajar ‘aja gumunan’, ‘aja kagetan’, ‘aja ngentutan’. Jangan mudah jatuh heran, kenapa ada begini ada begitu.

Lihat orang berpendidikan tapi bodoh, kok bisa ya? Lihat orang jengkang-jengking, kok jahat ya? Ada orang gondrong, tatoan, kok baik hati, peramah dan sopan, ya? Lihat saja perilakunya, outputnya. Bukan chasingnya. Lihat isi kritikannya, bukan siapa yang ngritik.

Walaupun itu juga sebagai pertanda, pada dasarnya kita cenderung tak suka dikritik, meski suka mengkritik. Bukan hanya dalam sikap keseharian, dalam berkesenian juga demikian. Apalagi dalam politik dan agama. Kritik itu pokokmen jelek. Bukan kepribadian kita.

Lha kepribadian kita apa? Kepribadian kita adalah mengritik, bukan dikritik. Maka jika ada yang ngritik, ya, langsung balas kritik. Dan yang ngritik kita sebut nyinyir. Tak peduli argumennya apa. Pokokmen gitu!

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed