by

Mati-Matian Melawan Kematian

Untungnya, kita masih boleh membuka informasi di seluruh jaringan media sosial, membaca dan berkonsultasi dengan kawan-kawan dokter yang begitu masygul melihat betapa mudahnya kita menerima nasib untuk hidup dengan ketakutan tanpa alasan. Mereka memberi penjelasan dengan cara sedemikian rupa hingga bisa dipahami masyarakat awam, seperti saya dan anda sekalian.

Contoh paling simpel adalah ketakutan terhadap penyebaran virus CoVid yang bahkan membuat orang menumpuk makanan dan alat perlindungan kesehatan di awal masa pandemi. Belum lagi ada masyarakat yang pergi ke swalayan menggunakan pakaian hazmat, seolah ada gas sarin (gas syaraf) yang sedang mengancam di tempat mereka berbelanja. Ini lebay!

Persebaran virus ini adalah melalui mata, hidung dan mulut, yang masing-masing memiliki saluran terhubung yang berkenaan dengan sistem pernafasan. Secara logika, bila ketiganya dilindungi, baik dengan penggunaan masker dan faceshield, ditambah dengan menjaga jarak dengan orang lain, maka virus tidak akan bisa masuk. Begitu yes? Iyes dong.

Loh, loh, trus gimana dong virus yang ada di tangan kita pas abis megang tombol lift, pegangan tangga, pegangan pintu, dst? Ya cuci tangan dong ah, apalagi kalo kemudian mau makan sesuatu yang langsung menggunakan tangan. Nah ketauan, dulu kalo abis dari toilet, pergi ke kantin kantor langsung ambil bakwan masuk mulut yaa? Bakwannya pake jatoh lagi ke lantai plur yang udah ga disapu seminggu, trus diambil lagi dan tetep dimakan. Yang gitu aja masih idup, kok sekarang tiba-tiba heboh, tho?

Ya emang, virus ini berbahaya karena media memberitakan penderita bisa sesak nafas hebat dan persebarannya masif, seribu orang per hari terpapar. Terpapar loh ya, bukan terjangkit lantas sakit. Ada bedanya? Ya ada dong, makanya kalo temen dokter ngomong tu jangan dicurigai melulu. Wong dikasi tau yang bener kok ndak terima, maunya ngikut petinggi instansi internesyenel yang sampai sekarang pun masih menyebutkan kondisi persebaran virus ini masih “open discussion” alias terbuka untuk diperdebatkan.

Coba deh sifat inlander-nya agak diturunkan sedikit supaya bisa melihat bahwa ada teman-teman sebangsa kita yang mampu melakukan penelitian mumpuni untuk mengatasi permasalahan ini. Toh juga ditemukan fakta bahwa virus yang menyebar di Asia berbeda jenis dengan yang ada di Amerika dan Eropa. Berarti yang harus bisa meneliti virus tersebut adalah orang di wilayah regional atau negara masing-masing kan? Kita punya kok para peneliti yang sedang memetakan si virus ini, meskipun salah satunya adalah dokter hewan. Gak perlu gengsi mengakui hasil penelitian dokter hewan, wong manusia iki juga masuk dalam klasifikasi Kingdom Animalia kok.

Dari saat ini ke depannya saya sebagai seorang beruang kutub otoriter penganut aliran Kim Jong Un akan ikut membagikan hasil temuan, analisis, obrolan manis dari teman-teman dokter dan non medis yang peduli. Tujuannya bukan untuk membuat masyarakat abai dan meremehkan penyakit ini, melainkan untuk membekali kita semua dengan pemahaman yang benar dan solusi yang tepat untuk menghindari keadaan yang lebih buruk dari paparan virus ini. Mudah-mudahan, apa yang sekarang dan nanti saya sampaikan bisa berterima dengan baik, sehingga kita bisa hidup senormal mungkin bersama virus-virus dan bakteri-bakteri yang ada di sekeliling kita.

Aamin ya? Aamiin dong

Sumber : Status facebook Reno Risanti Amalia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed